Forty Words for Love by Aisha Saeed | Book Review



Forty Words for Love takes us to Moonlight Bay, a town still reeling from a tragic event that's dimmed its once-beautiful seas. We meet Raf, a newcomer, and Yas, a local, as they deal with grief, loss, and the tensions dividing their community. The story dives into acceptance, the power of community, and the ups and downs of relationships, all against a backdrop of magic and a budding romance between Raf and Yas.

(Forty Words for Love membawa kita ke Moonlight Bay, sebuah kota yang masih belum pulih dari peristiwa tragis yang meredupkan lautannya yang dulunya indah. Kita bakal bertemu Raf, seorang pendatang baru, dan Yas, warga lokal, saat mereka menghadapi kesedihan, kehilangan, dan ketegangan yang memecah belah komunitas mereka. Ceritanya menyelami penerimaan, kekuatan komunitas, dan pasang surut hubungan, dengan latar belakang keajaiban dan cinta yang mulai tumbuh antara Raf dan Yas.)


BOOK REVIEW 

Forty Words for Love by Aisha Saeed tells a touching story about a town dealing with deep sadness after a tragic event. The book shows how the community copes with this loss and how it changes them. Saeed explores the different ways people grieve and how they support each other through tough times.

One part of the story shows how the town reacts to the Golub people, who are seeking safety in the nearby forest. The book talks about accepting others and shows the challenges the Golub face because of prejudice from the locals. It's a reminder of how unfair judgments can hurt marginalized groups.

But amidst all the sadness, there's a beautiful friendship between Raf and Yas. Their bond is like a lifeline, showing the importance of having someone to lean on during hard times. Saeed reminds us how strong connections can help us get through even the toughest moments.

And then there's the forbidden love story between Raf and Yas, which shows the struggles of love when society doesn't approve. It's a reminder of how societal expectations can impact our personal lives and choices.

(Forty Words for Love oleh Aisha Saeed menceritakan kisah menyentuh tentang sebuah kota yang menghadapi kesedihan mendalam setelah sebuah peristiwa tragis. Buku ini menunjukkan bagaimana masyarakat menghadapi kehilangan ini dan bagaimana hal ini mengubah mereka. Saeed mengeksplorasi berbagai cara orang-orang menghadapi duka dan bagaimana mereka saling mendukung melalui masa-masa sulit.

Salah satu bagian cerita menunjukkan bagaimana penduduk kota bereaksi terhadap masyarakat Golub, yang mencari perlindungan di hutan terdekat. Buku ini berbicara tentang menerima orang lain dan menunjukkan tantangan yang dihadapi Golub karena prasangka dari penduduk setempat. Kisah ini merupakan pengingat betapa penilaian yang tidak adil dapat merugikan kelompok marginal.

Namun di tengah segala kesedihan, ada persahabatan indah antara Raf dan Yas. Ikatan mereka seperti tali penyelamat, yang menunjukkan pentingnya memiliki seseorang untuk bersandar pada masa-masa sulit. Saeed mengingatkan kita bagaimana koneksi yang kuat dapat membantu kita melewati momen tersulit sekalipun.

Lalu ada pula kisah cinta terlarang antara Raf dan Yas yang menampilkan perjuangan cinta ketika masyarakat tidak merestui. Ini adalah pengingat bagaimana ekspektasi masyarakat dapat memengaruhi kehidupan dan pilihan pribadi kita.)


THE FAVORITES

■The book cover catches your eye with a cool design showing a Golub tree in the middle, Raf on one side, and Yas on the other. The different colors on each side show different points of view, making it look awesome. The cover makes you curious about the story inside, making you want to dive in and see what it's all about.

■The story deals with heavy topics such as grief, accepting tough situations, and the struggles of forbidden love. These deep topics make the book really emotional and make you think about life and love in a new way.

■The book talks about important things like immigration, cultural heritage, and how society expects us to act. These themes connect to things happening in the real world, like fear of change and how we see people who are different from us. It makes you think about how these issues affect us all.

■The idea of a town losing its magical vibe, mixed with the story of the Golub people and how they're linked to nature, is super cool and different. It's creative and makes the book stand out from other stories you've read.

(■Sampul buku ini menarik perhatian dengan desain menarik yang memperlihatkan pohon Golub di tengah, Raf di satu sisi, dan Yas di sisi lain. Warna berbeda di setiap sisinya menunjukkan sudut pandang berbeda, sehingga terlihat mengagumkan. Sampulnya membuat kita penasaran dengan cerita di dalamnya, yang membuat kita ingin mendalami dan melihat isinya.

■Ceritanya mengangkat topik-topik berat seperti kesedihan, menerima situasi sulit, dan cinta terlarang. Topik-topik mendalam ini membuat buku ini benar-benar emosional dan membuat kita berpikir tentang kehidupan dan cinta dengan cara yang baru.

■Buku ini berbicara tentang hal-hal penting seperti imigrasi, warisan budaya, dan bagaimana masyarakat mengharapkan kita untuk bertindak. Tema-tema ini berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di dunia nyata, seperti ketakutan akan perubahan dan cara kita memandang orang-orang yang berbeda dari kita. Hal ini membuat kita berpikir tentang bagaimana masalah ini berdampak pada kita semua.

■Ide cerita mengenai sebuah kota yang kehilangan kekuatan magisnya, dipadukan dengan kisah masyarakat Golub dan bagaimana mereka terhubung dengan alam, sangatlah keren dan berbeda. Ide ini kreatif dan membuat buku ini menonjol dari cerita lain yang pernah kita baca.)


THE DRAWBACKS

■The magical parts of the story, like the Golub tree, are interesting, but they're not explained enough. It leaves you wanting to know more about how it all works.

■The story moves kinda slow, and when it gets to the exciting parts, they don't hit as hard as you'd expect. It makes it a bit hard to stay interested into the story.

■There are a lot of things in the story that aren't fully explained, like who the Golub people are and how the magic system works. It's frustrating because you want to understand everything better.

■It's a bit confusing trying to figure out what kind of book it is. It's labeled as both YA and magical realism, but sometimes it feels like it doesn't quite fit into either category perfectly. 

■It feels like there's something missing from the story. You wish there was more to it, like more details about the world and how everything fits together.

(■Bagian magis dari cerita ini, seperti pohon Golub, memang menarik, namun tidak cukup dijelaskan. Hal ini membuat kita ingin tahu lebih banyak tentang cara kerjanya.

■Ceritanya bergerak agak lambat, dan ketika mencapai bagian yang menarik, efeknya tidak seheboh yang aku harapkan. Agak sulit untuk tetap tertarik pada ceritanya.

■Banyak hal dalam cerita yang belum dijelaskan sepenuhnya, seperti siapa orang Golub dan bagaimana magic system bekerja. Hal ini membuat frustrasi karena aku ingin memahami segalanya dengan lebih baik.

■Aku agak bingung saat mencoba mencari tahu genre buku ini. Meski diberi label sebagai YA dan realisme magis, tapi terkadang rasanya tidak cocok dengan kedua kategori tersebut dengan sempurna. 

■Rasanya ada sesuatu yang hilang dari cerita. Aku berharap ada lebih dari itu, seperti lebih banyak detail tentang setting dan bagaimana segala sesuatunya berhubungan satu sama lain.)


CONCLUSION

Forty Words for Love Forty Words for Love dives into deep themes like grief, acceptance, and dealing with prejudice, all while exploring the challenges of forbidden love. It takes readers on a journey through complex emotions, making you think about what it means to be human. The book also touches on real-world issues like immigration and cultural heritage. The idea of a town losing its magic and the connection with the Golub people and the environment is really interesting. But, the book struggles with not explaining things enough, moving a bit slow, and leaving some big questions unanswered, which can be frustrating.

(Forty Words for Love mendalami tema-tema mendalam seperti kesedihan, penerimaan, dan menghadapi prasangka, sambil mengeksplorasi tantangan cinta terlarang. Buku ini membawa pembaca pada perjalanan melalui emosi yang kompleks, membuat kita berpikir tentang apa artinya menjadi manusia. Buku ini juga menyentuh isu-isu dunia nyata seperti imigrasi dan warisan budaya. Gagasan tentang sebuah kota yang kehilangan keajaibannya dan hubungannya dengan masyarakat Golub serta lingkungannya sungguh menarik. Namun, buku ini tidak cukup menjelaskan banyak hal, bergerak agak lambat, dan meninggalkan beberapa pertanyaan besar yang belum terjawab, yang bisa membuat frustasi.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.