When You Fake Your Pregnancy | Diary of A Void by Emi Yagi | Book Review

 


Diary of A Void follows Shibata, a woman navigating the challenges of the Japanese workplace and societal expectations. Tired of being burdened with menial tasks due to her gender, Shibata impulsively lies about being pregnant to escape these duties. What starts as a small experiment to challenge workplace norms spirals into a surreal journey as she embraces the lie, joining prenatal classes, downloading pregnancy apps, and even feeling phantom movements. As Shibata's fictional pregnancy grows, the lines between reality and illusion blur, leading her to ponder the complexities of her own desires, the pressures to conform, and the isolation she feels. Through humor, empathy, and poignant reflections, the novel explores themes of gender dynamics, societal expectations, loneliness, and the search for personal identity. It provides a thought-provoking glimpse into the challenges faced by women in modern Japan and prompts readers to question the roles and norms that shape their lives.

(Diary of a Void mengikuti kisah Shibata, seorang wanita yang menghadapi tantangan dunia kerja dan ekspektasi masyarakat di Jepang. Bosan dibebani dengan tugas-tugas yang diberikan karena jenis kelaminnya, Shibata secara impulsif berbohong tentang kehamilannya untuk menghindari tugas-tugas tersebut. Hal yang dimulai sebagai eksperimen kecil untuk menantang norma tempat kerja pun berubah menjadi perjalanan surealis saat dia menerima kebohongan tersebut, mengikuti kelas pranatal, mengunduh aplikasi kehamilan, dan bahkan merasakan gerakan ilusi dalam perutnya. Saat kehamilan fiksi Shibata berkembang, garis antara kenyataan dan ilusi pun kabur, yang membuatnya merenungkan kompleksitas keinginannya sendiri, tekanan untuk menyesuaikan diri, dan keterasingan yang dia rasakan. Melalui humor, empati, dan renungan, novel ini mengeksplorasi tema dinamika gender, ekspektasi masyarakat, kesepian, dan pencarian identitas pribadi. Novel ini memberikan pandangan sekilas tentang tantangan yang dihadapi wanita modern di Jepang dan mendorong pembaca untuk mempertanyakan peran dan norma yang membentuk kehidupan mereka.)

 

BOOK INFORMATION

Title                       : Diary of A Void

Author                  : Emi Yagi

Publisher              : Viking

Language             : English

Length                  : 213 pages

Released               : August 9, 2022

Read                     : August 5-16, 2023

GR Rating            : 3.54

My rating             : 3.50

 

BOOK REVIEW

Diary of a Void by Emi Yagi is an exploration of modern workplace culture, particularly within the context of Japan. Yagi deftly dissects gender dynamics and expectations that permeate the corporate world, offering a sharp commentary on the division of tasks based on gender. Shibata's experience as the only woman in her workplace resonates with many as she navigates the often-invisible labor of menial tasks and the unchecked assumptions that she should handle them. The satire on corporate culture highlights how women like Shibata bear the brunt of these unquestioned norms, often at the expense of their own professional growth. The novel doesn't shy away from addressing the uncomfortable reality of sexual harassment, adding depth and realism to Shibata's journey.

Loneliness and the human need for connection are central themes that Yagi masterfully weaves into the narrative. Shibata's decision to fake a pregnancy not only offers her an escape from her lonely reality but also exposes the ways in which society views and treats pregnant women. 

Shibata's pursuit of balance between work and personal life is a relatable struggle that strikes a chord with readers worldwide. Her adoption of the fake pregnancy as a form of self-care and escape showcases the lengths individuals might go to find solace amid their demanding lives. The novel beautifully juxtaposes the monotony of office life with Shibata's newfound joy in pursuing personal interests, highlighting the importance of carving out moments of respite in the midst of daily routines.

The exploration of motherhood and societal expectations adds another layer of complexity to the narrative. By embracing the lie of pregnancy, Shibata challenges not only her colleagues' assumptions but also society's ingrained notions of motherhood. The lack of support for mothers to raise children is exposed through the struggles of Shibata's friend, shedding light on the hardships faced by those juggling familial responsibilities with professional obligations. Yagi doesn't shy away from portraying the difficulties of childcare, making readers question the often-romanticized concept of motherhood.

(Diary of A Void karya Emi Yagi merupakan eksplorasi budaya tempat kerja modern, khususnya di Jepang. Yagi membedah dinamika dan ekspektasi gender yang ada dalam dunia korporat, dengan memberikan komentar tajam tentang pembagian tugas berdasarkan gender. Pengalaman Shibata sebagai satu-satunya wanita di tempat kerjanya beresonansi dengan banyak orang saat dia menghadapi pekerjaan yang sering tidak terhitung dan asumsi yang tidak terkendali bahwa dia harus menanganinya. Satir tentang budaya perusahaan menyoroti bagaimana wanita seperti Shibata menanggung beban dari norma yang tidak perlu dipertanyakan ini, seringkali dengan mengorbankan perkembangan profesional mereka sendiri. Novel ini juga tidak segan-segan membahas realitas pelecehan seksual yang tidak nyaman, yang menambah kedalaman dan realisme dalam perjalanan Shibata.

Kesepian dan kebutuhan manusia akan koneksi adalah tema sentral yang  disertakan oleh Yagi ke dalam narasi. Keputusan Shibata untuk memalsukan kehamilannya tidak hanya memberinya jalan keluar dari kesepiannya, tetapi juga mengungkap cara masyarakat memandang dan memperlakukan wanita hamil. 

Perjuangan Shibata akan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terasa relatable dan menyentuh hati pembaca. Penggunaan kehamilan palsu sebagai bentuk self-care dan pelarian menunjukkan sejauh mana individu bisa mencari penghiburan di tengah kehidupan mereka yang menuntut. Novel ini dengan indah menyandingkan kehidupan kantor yang monoton dengan kegembiraan baru Shibata dalam mengejar kepentingan pribadinya, yang menyoroti pentingnya menciptakan momen istirahat di tengah rutinitas sehari-hari.

Eksplorasi topik ibu dan ekspektasi masyarakat menambah lapisan kompleksitas kisah ini. Dengan kehamilan palsu, Shibata menantang tidak hanya asumsi rekan-rekannya tetapi juga gagasan tentang peran ibu dalam masyarakat yang sudah mendarah daging. Kurangnya dukungan untuk ibu dalam mengasuh anak terungkap melalui perjuangan teman Shibata, yang menyoroti kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang menghadapi tanggung jawab keluarga dan kewajiban profesional. Yagi tidak segan-segan menggambarkan kesulitan mengasuh anak, yang membuat pembaca mempertanyakan konsep peran ibu yang sering diromantisasi.)

 

THINGS I LIKE

■Diary of a Void stands out with its ingenious premise, employing the unlikely concept of a fake pregnancy as a vehicle for deeper exploration. Emi Yagi ingeniously uses this audacious setup to challenge societal assumptions about women's capabilities and priorities. Through Shibata's journey, Yagi artfully questions the conventional trajectory expected of women, daring readers to contemplate the extent of societal pressures that often dictate a woman's life choices.

■The novel's rich commentary on gender dynamics, societal expectations, and workplace culture resonates deeply. Yagi masterfully exposes the gendered division of tasks in the workplace, shedding light on the oft-ignored invisible labor that women undertake. This exploration isn't confined to Japan but extends to a broader global context, inviting readers to consider their own experiences and perceptions of gender roles. The satirical lens through which Yagi examines corporate culture lends the narrative a sharp wit, and the critique of sexual harassment offers a sobering yet necessary reflection on this pervasive issue.

■The engaging diary format, divided by weeks, propels the narrative forward with a rhythmic cadence. This structure invites readers into Shibata's world, enabling an intimate understanding of her thoughts, feelings, and gradual transformation. The format cleverly mirrors the progression of her "pregnancy," allowing readers to witness her internal and external changes, while also conveying the passage of time in a palpable manner.

■One of the book's strengths lies in its critique of consumerism. The novel is replete with brand names, reflecting the omnipresence of consumer culture in modern society. By weaving these elements into the narrative, Yagi highlights the way consumerism shapes people's lives and values, even as Shibata's fake pregnancy inadvertently provides her with new perspectives on materialism and her own desires.

(■Diary of a Void menonjol dengan premisnya yang cerdik, yang menggunakan konsep kehamilan palsu sebagai sarana untuk eksplorasi yang lebih dalam. Emi Yagi  menggunakan konfigurasi yang berani ini untuk menantang asumsi masyarakat tentang kemampuan dan prioritas perempuan. Melalui perjalanan Shibata, Yagi dengan cerdas mempertanyakan kehidupan konvensional yang diharapkan dari perempuan, yang menantang pembaca untuk merenungkan sejauh mana tekanan masyarakat yang sering menentukan pilihan hidup perempuan.

■Komentar novel yang kaya tentang dinamika gender, ekspektasi masyarakat, dan budaya tempat kerja beresonansi secara mendalam. Yagi memaparkan pembagian tugas berdasarkan gender di tempat kerja, yang menyoroti pekerjaan tak terlihat yang sering diabaikan yang dilakukan wanita. Eksplorasi ini tidak terbatas pada Jepang tetapi meluas pada konteks global yang lebih luas, yang mengajak pembaca untuk mempertimbangkan pengalaman dan persepsi mereka sendiri tentang peran gender. Lensa satir yang digunakan Yagi untuk mengkaji budaya perusahaan memberikan narasi yang tajam, dan kritik terhadap pelecehan seksual menawarkan refleksi yang serius tentang masalah yang meluas ini.

■Format buku harian (diary) yang menarik yang dibagi berdasarkan minggu, mendorong narasi ke depan dengan irama yang ritmis. Struktur ini mengundang pembaca ke dunia Shibata, memungkinkan pemahaman yang mendalam tentang pikiran, perasaan, dan transformasinya secara bertahap. Format ini dengan cerdik mencerminkan perkembangan "kehamilannya", yang memungkinkan pembaca untuk menyaksikan perubahan internal dan eksternalnya, sekaligus menyampaikan perjalanan waktu dengan cara yang gamblang.

■Salah satu kekuatan buku ini terletak pada kritiknya terhadap konsumerisme. Novel ini sarat dengan nama-nama merek yang mencerminkan budaya konsumen yang ada di mana-mana dalam masyarakat modern. Dengan memasukkan elemen-elemen ini ke dalam narasi, Yagi menyoroti bagaimana konsumerisme membentuk kehidupan dan nilai seseorang, bahkan ketika kehamilan palsu Shibata secara tidak sengaja memberinya perspektif baru tentang materialisme dan keinginannya sendiri.)

 

THINGS I DON'T LIKE

■The absence of explanations for Japanese terms and food names scattered throughout the book. While Yagi's intent might have been to maintain the authenticity of the setting, some readers, particularly those unfamiliar with Japanese culture, could find themselves feeling a bit lost and disconnected due to the lack of explanation about what kind of objects made appearance in the story.

■The decision to withhold names for certain objects and experiences, such as when the main character finds something to mimic a pregnant belly, might create a sense of confusion. The main character only mentioned the characteristics of objects she used without mentioning their names.

■Yagi's writing style, while generally engaging, might occasionally confound readers when the main character fixates on certain details only to leave them unexplained. This left me questioning the significance or role of these elements in the broader narrative. For example, the main character suddenly looked at somewhere but it turned out having no connection to the main narration then the story went to the next part.

(■Tidak adanya penjelasan istilah Jepang dan nama makanan yang ada di seluruh buku. Meskipun tujuan penulis mungkin untuk mempertahankan keaslian latar, beberapa pembaca, terutama yang tidak terbiasa dengan budaya Jepang, mungkin merasa sedikit kebingungan karena kurangnya penjelasan mengenai jenis benda apa yang muncul dalam cerita.

■Keputusan untuk tidak menyebutkan nama atau istilah untuk objek dan pengalaman tertentu, seperti ketika karakter utama menemukan sesuatu untuk meniru bentuk perut saat hamil, dapat menimbulkan kebingungan. Tokoh utama hanya menyebutkan ciri-ciri benda yang dia gunakan tanpa memberi tahu pembaca nama benda tersebut.

■Gaya penulisan Yagi, meski secara umum menarik, kadang-kadang dapat membingungkan pembaca ketika karakter utama berfokus pada detail tertentu yang pada akhirnya tidak dijelaskan. Hal ini membuat aku bertanya-tanya tentang signifikansi atau peran elemen-elemen ini dalam narasi yang lebih luas. Seperti saat tokoh utama tiba-tiba melihat ke suatu arah, tapi kemudian tidak ada kaitannya dengan narasi utama dan beralih ke kejadian berikutnya.)

 

CONCLUSION

Diary of a Void is an exploration of complex themes through a unique premise. Emi Yagi employs the vehicle of a fake pregnancy to delve into deeper issues, effectively challenging assumptions about women's capabilities and priorities. The novel's commentary on gender dynamics, societal expectations, and workplace culture adds a layer of thought-provoking depth, while its engaging diary format structured by weeks offers a dynamic lens into the protagonist's evolving journey. This structure, however, also reveals some drawbacks, such as a desire for more detailed exploration of further clarity on Japanese terms and nameless objects. While Yagi's writing style holds the power to engage readers, moments of confusion stemming from unexplained details might occasionally disrupt the flow. Despite these imperfections, Diary of a Void offers a fresh perspective on the complexities of contemporary life and societal expectations.

(Diary of a Void adalah eksplorasi tema kompleks melalui premis yang unik. Emi Yagi menggunakan sarana kehamilan palsu untuk menyelidiki masalah yang lebih dalam, yang secara efektif menantang asumsi tentang kemampuan dan prioritas perempuan. Komentar novel tentang dinamika gender, ekspektasi masyarakat, dan budaya tempat kerja menambahkan lapisan kedalaman pemikiran, sementara format buku hariannya yang menarik yang disusun berdasarkan minggu menawarkan lensa dinamis ke dalam perjalanan protagonis yang terus berkembang. Struktur ini, bagaimanapun, juga memiliki beberapa kelemahan, seperti keinginan untuk kejelasan lebih lanjut tentang istilah dalam bahasa Jepang dan objek tanpa nama. Sementara gaya penulisan Yagi memegang kekuatan untuk melibatkan pembaca, kebingungan yang berasal dari detail yang tidak dapat dijelaskan kadang-kadang dapat mengganggu alur. Terlepas dari ketidaksempurnaan ini, Diary of a Void menawarkan perspektif baru tentang kompleksitas kehidupan kontemporer dan ekspektasi masyarakat.)


0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.