Your Children Are Not Your Children | Book Quotes

 



Kahlil Gibran's The Prophet is a book with deep insights into human life. One part that touches hearts talks about the complex relationship between parents and children. 

Gibran's thoughts on parent-child relationships in The Prophet reveal important ideas that connect with readers on a deep level. A central theme is seeing children as independent individuals, separate from their parents. The beginning, 'Your children are not your children,' strongly highlights each child's independence, emphasizing they aren't possessions but representations of life's natural wish to continue itself.

(The Prophet karya Kahlil Gibran adalah buku yang berisi wawasan tentang kehidupan manusia. Salah satu bagian yang menyentuh hati bercerita tentang rumitnya hubungan orang tua dan anak.

Pemikiran Gibran tentang hubungan orang tua-anak dalam The Prophet mengungkapkan gagasan penting yang terhubung dengan pembaca secara mendalam. Tema sentralnya adalah melihat anak-anak sebagai individu yang mandiri, terpisah dari orang tuanya. Bagian awal, 'Anakmu bukanlah anakmu', dengan tegas menyoroti kemandirian setiap anak, menekankan bahwa mereka bukanlah sesuatu yang dimiliki melainkan representasi dari keinginan alami kehidupan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri.)


Your children are not your children.

They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.


The idea that "Your children are not your children" challenges the usual thought that parents own or control their kids. Gibran wants us to see children not as things owned by parents but as independent individuals on their own journeys.

When Gibran says children are "the sons and daughters of Life’s longing for itself," he adds a big idea to childbirth. He sees having kids as part of life's natural wish to continue and grow. This makes being a parent feel like a big and important purpose, connected to a force that goes beyond just one person's life.

This way of thinking encourages us to see children as a result of a deep force in life, not just something people plan. Recognizing "Life’s longing for itself" makes us think about how different generations are connected, and how life continues in a circle. Gibran's way of talking about being a parent makes it seem like a beautiful dance with the big forces in life, where children show up as symbols of life wanting to keep going and starting anew.

To put it simply, this quote is like the main idea behind Gibran's thoughts on being a parent. It tells us to see parenting not just as a personal thing but as a part of the big picture of life, where parents play a role, and children represent life's wish to keep going and renew itself.

(Gagasan bahwa "Anakmu bukanlah anakmu" menantang pemikiran umum bahwa orang tua memiliki atau mengontrol anak-anak mereka. Gibran ingin kita melihat anak bukan sebagai milik orang tua, melainkan sebagai individu yang mandiri dalam perjalanannya sendiri.

Ketika Gibran mengatakan bahwa anak-anak adalah “putra dan putri kerinduan Kehidupan terhadap dirinya sendiri”, ia menambahkan gagasan yang berbeda mengenai kelahiran anak. Menurutnya memiliki anak sebagai bagian dari keinginan alami kehidupan untuk terus berlanjut dan berkembang. Hal ini membuat menjadi orang tua terasa seperti sebuah tujuan yang besar dan penting, yaitu terhubung dengan kekuatan yang melampaui kehidupan satu orang saja.

Cara berpikir seperti ini mendorong kita untuk melihat anak-anak sebagai hasil dari suatu kekuatan yang besar dalam hidup, bukan sekedar sesuatu yang direncanakan oleh manusia. Menyadari "Kerinduan Kehidupan terhadap dirinya sendiri" membuat kita berpikir tentang bagaimana generasi-generasi yang berbeda terhubung, dan bagaimana kehidupan berlanjut dalam sebuah lingkaran. Bagaimana Gibran membahas tentang menjadi orang tua seperti sebuah tarian indah dengan kekuatan besar dalam hidup, dimana anak tampil sebagai simbol kehidupan yang ingin terus maju dan memulai hal baru.

Sederhananya, kutipan ini ibarat gagasan utama di balik pemikiran Gibran tentang menjadi orang tua. Hal ini memberitahu kita untuk melihat pengasuhan anak bukan hanya sebagai hal pribadi namun sebagai bagian dari gambaran besar kehidupan, di mana orang tua berperan, dan anak-anak mewakili keinginan kehidupan untuk terus berjalan dan memperbarui diri.)


They come through you but not from you,

And though they are with you yet they belong not to you.


The idea that children "come through you but not from you" has two meanings. First, it recognizes the biological part of having kids, where children are born to their parents. But Gibran wants us to see that children aren't things to own or control. This challenges the usual idea that parents are their kids, or vice versa and instead, Gibran wants us to understand that each child is their own person.

When Gibran says "though they are with you yet they belong not to you," he goes deeper into this idea. Even if children are physically close to their parents, Gibran wants us to remember their unique individuality. Saying they "belong not to you" means they aren't possessions; each child has their own path and future. This thinking encourages parents to see and respect their children as individuals, creating a space for them to grow and discover themselves.

Gibran's way of talking invites readers to think about finding the right balance between being close to your child and letting them be independent. These lines remind us that, despite the strong emotional bond, children aren't copies of their parents. They're on their own journey, sharing a space with their parents for a while. This wisdom encourages thinking about family connections and creating an environment that supports both closeness and individuality.

(Gagasan bahwa anak-anak “terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal darimu” memiliki dua arti. Pertama, mengakui bagian biologis dari memiliki anak, yaitu anak dilahirkan dari orang tuanya. Namun Gibran ingin kita melihat bahwa anak-anak bukanlah sesuatu yang harus dimiliki atau dikendalikan. Hal ini menantang gagasan umum bahwa orang tua adalah anak mereka, dan sebaliknya, Gibran ingin kita memahami bahwa setiap anak adalah dirinya sendiri.

Ketika Gibran mengatakan “meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu”, dia mendalami gagasan ini lebih dalam. Meski secara fisik anak-anak dekat dengan orang tuanya, Gibran ingin kita mengingat keunikan individualitas mereka. Mengatakan mereka “bukan milikmu” berarti mereka bukan sesuatu yang dimiliki, setiap anak mempunyai jalan dan masa depan masing-masing. Pemikiran ini mendorong orang tua untuk melihat dan menghormati anak-anak mereka sebagai individu, yaitu menciptakan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan menemukan diri mereka sendiri.

Gaya penulisan Gibran mengajak pembaca berpikir untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara dekat dengan anak dan membiarkan mereka mandiri. Kalimat-kalimat ini mengingatkan kita bahwa, meskipun memiliki ikatan emosional yang kuat, anak-anak bukanlah tiruan dari orang tuanya. Mereka sedang dalam perjalanan mereka sendiri, berbagi ruang dengan orang tuanya untuk sementara waktu. Kebijaksanaan ini mendorong pemikiran tentang hubungan keluarga dan menciptakan lingkungan yang mendukung kedekatan dan individualitas.)


You may give them your love but not your thoughts,

For they have their own thoughts.


"You may give them your love but not your thoughts" is about respecting each child's uniqueness. Gibran suggests parents share love but avoid forcing their own ideas onto their children. This recognizes that every child is special with their own thoughts, different from their parents.

When Gibran says "For they have their own thoughts," he wants parents to understand that children's minds are independent. Gibran encourages parents to appreciate and support their children's thoughts. This is crucial for creating an environment where children can grow their own ideas, values, and beliefs, helping them develop as individuals.

Gibran's way of thinking challenges the usual idea that parents should always share their wisdom with their kids. Instead, he suggests creating a space where children are free to explore, question, and form their own thoughts. This not only respects each child's uniqueness but also helps them develop critical thinking and a strong sense of self.

In simple terms, these lines say it's important for parents to balance giving love with letting their children think independently. By understanding and respecting each child's thoughts, parents can support them in becoming independent thinkers. Gibran's advice encourages a parenting style that values both emotional connection and intellectual freedom.

("Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu" adalah tentang menghormati keunikan setiap anak. Gibran menyarankan para orang tua untuk berbagi kasih sayang, namun jangan memaksakan gagasan kepada anak. Hal ini menyadari bahwa setiap anak itu istimewa dengan pemikirannya masing-masing, yang berbeda dengan orang tuanya.

Ketika Gibran mengatakan "Sebab mereka memiliki pikiran sendiri", dia ingin orang tua memahami bahwa pikiran anak itu mandiri. Gibran mendorong para orang tua untuk mengapresiasi dan mendukung pemikiran anaknya. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan di mana anak-anak dapat menumbuhkan ide, nilai, dan keyakinan mereka sendiri, sehingga membantu mereka berkembang sebagai individu.

Cara berpikir Gibran menantang anggapan umum bahwa orang tua harus selalu berbagi kebijaksanaan dengan anak-anaknya. Sebaliknya, ia menyarankan untuk menciptakan ruang di mana anak-anak bebas bereksplorasi, bertanya, dan membentuk pemikirannya sendiri. Hal ini tidak hanya menghormati keunikan setiap anak tetapi juga membantu mereka mengembangkan pemikiran kritis dan rasa percaya diri yang kuat.

Secara sederhana, kalimat ini mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan pemberian kasih sayang dengan membiarkan anak berpikir mandiri. Dengan memahami dan menghargai pemikiran setiap anak, orang tua dapat mendukungnya menjadi pemikir mandiri. Nasehat Gibran ini mendorong pola asuh yang menghargai hubungan emosional dan kebebasan intelektual.)


You may house their bodies but not their souls,

For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.


"You may house their bodies but not their souls" talks about the time and spiritual parts of being a parent. While parents take care of the body and give protection, Gibran reminds us that a child's true self, represented by their soul, is not controlled by parents. This makes us see that a child's spiritual journey is very personal and can't be directed by others.

Talking about the soul being in the "house of tomorrow" adds a time aspect to this idea. The "house of tomorrow" means the future and the unique path each child will have. Gibran beautifully says a child's soul looks towards the future, suggesting growth, change, and self-discovery. Saying "which you cannot visit, not even in your dreams" emphasizes how mysterious and unpredictable a child's future is. It shows that, as parents, we can't know or control what spiritual journey our children will have.

Gibran wants us to see and respect the sacred and changing nature of a child's inner self. Parents have the duty to care for their child's body but also need to respect the spiritual freedom in each soul. This wisdom makes us think deeply about the mysterious parts of being a parent, where taking care of the body goes along with respecting the spiritual journey of the child.

("Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka" berbicara tentang waktu dan bagian spiritual dari menjadi orang tua. Di saat orang tua merawat tubuh dan memberikan perlindungan, Gibran mengingatkan kita bahwa jati diri seorang anak, yang diwakili oleh jiwanya, tidak dikendalikan oleh orang tua. Hal ini membuat kita melihat bahwa perjalanan spiritual seorang anak sangatlah pribadi dan tidak bisa diarahkan oleh orang lain.

Berbicara tentang jiwa yang berada di "rumah masa depan" menambahkan aspek waktu pada gagasan ini. “Rumah masa depan” berarti masa depan dan jalan unik yang akan dilalui setiap anak. Gibran dengan indah mengatakan bahwa jiwa anak-anak memandang ke masa depan, yang menunjukkan pertumbuhan, perubahan, dan penemuan diri. Perkataan “yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu” menekankan betapa misterius dan tidak dapat diprediksinya masa depan seorang anak. Hal ini menunjukkan bahwa, sebagai orang tua, kita tidak bisa mengetahui atau mengontrol perjalanan spiritual apa yang akan dilalui anak kita.

Gibran ingin kita melihat dan menghormati sifat sakral dan perubahan dalam diri seorang anak. Orang tua mempunyai kewajiban untuk merawat tubuh anaknya tetapi juga perlu menghormati kebebasan spiritual dalam setiap jiwa. Hal ini membuat kita memikirkan secara mendalam tentang sisi misterius menjadi orang tua, dimana merawat tubuh dibarengi dengan menghormati perjalanan spiritual anak.)


You may strive to be like them, but seek not to make them like you.

For life goes not backward nor tarries with yesterday.


"strive to be like them" means parents should try to understand and connect with their children. It's about appreciating their unique views and experiences, showing a readiness to bridge the gap between generations and understand the changing world.

But when Gibran says "seek not to make them like you," he warns against forcing your own experiences or beliefs onto your children. He wants us to see that each generation has its own unique circumstances, and trying to repeat the past in the present doesn't work.

Saying "For life goes not backward nor tarries with yesterday" makes clear that change is natural and always moving forward. Gibran wants parents to accept that their children are part of a constantly moving journey, so it's important not to hold them back with ideas from the past. This way of thinking encourages parents to be open-minded, creating an environment where children can grow in their own time.

Gibran's advice is a gentle reminder to parents to be there for their children without putting old expectations on them. It encourages a flexible approach to parenting, recognizing that life is always changing, and children need the space to follow their own unique paths.

(“berusaha menjadi seperti mereka” berarti orang tua harus berusaha memahami dan berhubungan dengan anak-anaknya. Ini tentang menghargai pandangan dan pengalaman unik mereka, yang menunjukkan kesiapan untuk menjembatani kesenjangan antar generasi dan memahami dunia yang berubah.

Namun ketika Gibran mengatakan "jangan menjadikan mereka seperti kamu," dia memperingatkan agar tidak memaksakan pengalaman atau keyakinan kita kepada anak-anak. Dia ingin kita melihat bahwa setiap generasi memiliki keadaan uniknya masing-masing, dan mencoba mengulangi masa lalu di masa sekarang tidak akan berhasil.

Bagian yang mengatakan "Kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin" memperjelas bahwa perubahan adalah sesuatu yang wajar dan selalu bergerak maju. Gibran ingin para orang tua menerima bahwa anak-anak mereka adalah bagian dari perjalanan yang terus bergerak, jadi penting untuk tidak menahan mereka dengan ide-ide dari masa lalu. Cara berpikir seperti ini mendorong orang tua untuk berpikiran terbuka, yang menciptakan lingkungan di mana anak dapat tumbuh sesuai waktunya.

Nasihat Gibran menjadi pengingat lembut bagi para orang tua agar selalu ada untuk anak-anaknya tanpa menaruh harapan lama pada mereka. Hal ini mendorong pendekatan yang fleksibel dalam mengasuh anak, menyadari bahwa kehidupan selalu berubah, dan anak-anak membutuhkan ruang untuk mengikuti jalur unik mereka sendiri.)


You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.

The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.

Let your bending in the archer’s hand be for gladness;

For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.


Thinking of parents as bows means they play a supportive role. Bows create the tension needed to send arrows forward, symbolizing how parents stabilize and shape their children's journeys. Just as a bow gives strength to an arrow, parents guide their children's lives through care, guidance, and values.

The archer, representing life or destiny, gives a broader view. The archer sees the path of life, emphasizing a purposeful journey. This hints at a cosmic element shaping individual destinies. Bending the bow intentionally symbolizes life guiding children swiftly and far.

Gibran's idea that the bending should be "for gladness" adds emotion. It tells parents to embrace their role with joy, changing the view of responsibility from a burden to a source of happiness.

The ending, "For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable," shows the connection between parents and children. Life values each child's journey and appreciates the stability and support parents give. The stable bow becomes a symbol of a caring environment, contributing to the child's success and well-being.

(Menganggap orang tua sebagai busur berarti mereka memainkan peran yang mendukung. Busur menciptakan ketegangan yang diperlukan untuk mengarahkan anak panah ke depan, yang melambangkan bagaimana orang tua menstabilkan dan membentuk perjalanan anak-anak mereka. Sama seperti busur memberi kekuatan pada anak panah, orang tua membimbing kehidupan anak-anak mereka melalui perhatian, bimbingan, dan nilai-nilai.

Pemanah yang mewakili kehidupan atau takdir memberikan pandangan yang lebih luas. Pemanah melihat jalan kehidupan, menekankan perjalanan yang memiliki tujuan. Hal ini mengisyaratkan adanya unsur kosmis yang membentuk nasib individu. Membengkokkan busur melambangkan kehidupan membimbing anak dengan cepat dan jauh.

Gagasan Gibran bahwa pembengkokan harus dilakukan "untuk kegembiraan" menambah aspek emosional. Hal ini memberitahu orang tua untuk menjalankan peran mereka dengan gembira, mengubah pandangan tentang tanggung jawab dari beban menjadi sumber kebahagiaan.

Akhir cerita, “Sebab, seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat, Ia pun mencintai busur yang kuat.” menunjukkan hubungan antara orang tua dan anak. Kehidupan menghargai perjalanan setiap anak dan menghargai stabilitas serta dukungan yang diberikan orang tua. Busur yang stabil menjadi simbol lingkungan yang mengasuh, yang berkontribusi terhadap kesuksesan dan kesejahteraan anak.)


CONCLUSION

In The Prophet, Kahlil Gibran shares deep thoughts about the relationship between parents and children. Using beautiful language and meaningful comparisons, Gibran highlights how children have their own paths, and he encourages parents to understand and respect this. Gibran's advice suggests a balanced way of parenting, where love, joy, and stability are important, and children are given the freedom to follow their own unique journeys. Reflecting on Gibran's words leads us to think about timeless and universal truths in the delicate relationship between parents and their children.

(Dalam The Prophet, Kahlil Gibran berbagi pemikiran mendalam tentang hubungan orang tua dan anak. Dengan menggunakan bahasa yang indah dan perbandingan yang bermakna, Gibran menyoroti bagaimana anak-anak memiliki jalannya masing-masing, dan dia mendorong orang tua untuk memahami dan menghormati hal ini. Nasihat Gibran menyarankan cara mengasuh anak yang seimbang, di mana cinta, kegembiraan, dan stabilitas adalah hal yang penting, dan anak-anak diberi kebebasan untuk mengikuti perjalanan unik mereka sendiri. Merenungkan kata-kata Gibran membawa kita pada pemikiran tentang kebenaran abadi dan universal dalam hubungan rumit antara orang tua dan anak-anaknya.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.