The Grace Year by Kim Liggett | Book Review

 


The Grace Year by Kim Liggett is a thrilling dystopian tale about Tierney James and other young girls sent into the wild during their Grace Year to lose their magical abilities and come back purified. Tierney faces dangers like survival tests, competition, and betrayal from others. Despite the odds, the girls bond together, challenging a society that's all about fear, power, and control. The book talks about gender roles, inequality, independence, and the power of female friendships, which draw connections to real-life issues.

(The Grace Year oleh Kim Liggett adalah kisah distopia yang mendebarkan tentang Tierney James dan gadis-gadis muda lainnya yang dikirim ke alam liar selama Grace Year mereka untuk melepaskan kekuatan sihir mereka dan kembali dalam keadaan murni. Tierney menghadapi bahaya seperti ujian bertahan hidup, persaingan, dan pengkhianatan dari orang lain. Meski ada banyak rintangan, gadis-gadis ini kemudian bersatu, menantang masyarakat yang penuh ketakutan, kekuasaan, dan kendali. Buku ini berbicara tentang peran gender, ketidaksetaraan, kebebasan, dan kekuatan persahabatan perempuan, yang menghubungkannya dengan isu-isu kehidupan nyata.)


BOOK REVIEW

Kim Liggett's The Grace Year is a thrilling dystopian novel that dives into important themes, which make readers think deeply and feel the intensity of the story. The concept of the Grace Year reflects the struggles young women face in our society, like pressure to fit certain standards. In the book, the girls go through difficult times, kind of like how real-life pressures can weigh on them. The Grace Year becomes a symbol for breaking free from these pressures and finding independence, as characters challenge norms to discover who they really are.

Liggett digs into gender roles and unfairness in a society where some lives matter more than others, sparking a fight for freedom and autonomy. The book shows how expectations can limit and treat people unfairly based on gender. Characters rebel against these unfair rules, demanding control over their own lives. Their rebellion shows the power of standing up together against what society expects of them.

In this book, the story revolves around powerful themes like control and fear, which keep the tension high. The society in the book uses fear to control how people act, keep things the way they are, and stop anyone from rebelling. This mirrors real-life situations where fear is used to keep people in line and keep society running the way those in authority want it to. The characters' journey of standing up to this fear, leading to rebellion, shows how powerful it can be when people come together to fight against oppression.

Liggett's writing makes the challenges the girls face during their Grace Year feel intense and disturbing. The vivid and sometimes unsettling descriptions put us right in the middle of their struggles, and makes us feel what they feel. This makes us understand their difficulties better and makes their moments of strength and bravery even more powerful.

One of the most touching themes in the book is the sisterhood and friendships that grow among the girls. What starts as competition turns into support as they help each other through hard times. Liggett shows how strong and empowering these bonds can be, which proves that solidarity among women is key to overcoming difficult times.

(The Grace Year karya Kim Liggett adalah novel distopia mendebarkan yang menyelami tema-tema penting, yang membuat pembaca berpikir secara mendalam dan merasakan intensitas cerita. Konsep Grace Year mencerminkan perjuangan yang dihadapi perempuan muda di masyarakat kita, seperti tekanan untuk memenuhi standar tertentu. Dalam buku ini, para gadis melewati masa-masa sulit, seperti bagaimana tekanan dalam kehidupan nyata dapat membebani mereka. Grace Year menjadi simbol untuk melepaskan diri dari tekanan-tekanan ini dan menemukan kemerdekaan, ketika para karakter menantang norma-norma untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya.

Liggett menggali peran gender dan ketidakadilan dalam masyarakat di mana beberapa orang dianggap lebih penting dibandingkan yang lain, sehingga memicu perjuangan untuk kebebasan dan otonomi. Buku ini menunjukkan bagaimana ekspektasi dapat membatasi dan memperlakukan orang secara tidak adil berdasarkan gender. Para karakter memberontak terhadap aturan yang tidak adil ini dan menuntut kendali atas hidup mereka sendiri. Pemberontakan mereka menunjukkan kekuatan untuk bangkit bersama melawan apa yang masyarakat harapkan dari mereka.

Dalam buku ini, ceritanya berfokus pada tema-tema kuat seperti kontrol dan ketakutan, yang menciptakan ketegangan. Masyarakat dalam buku ini menggunakan rasa takut untuk mengontrol cara orang bertindak, menjaga segala sesuatunya sebagaimana adanya, dan menghentikan siapa pun untuk memberontak. Hal ini mencerminkan situasi kehidupan nyata di mana rasa takut digunakan untuk menjaga orang-orang tetap pada jalurnya dan menjaga masyarakat hidup sesuai keinginan orang-orang yang berkuasa. Perjalanan para karakter dalam melawan ketakutan yang mengarah pada pemberontakan ini menunjukkan betapa kuatnya kekuatan ketika orang-orang bersatu untuk melawan penindasan.

Tulisan Liggett membuat tantangan yang dihadapi para gadis selama Grace Year mereka terasa berat dan meresahkan. Gambaran yang gamblang dan terkadang meresahkan menempatkan kita tepat di tengah pergumulan mereka, dan membuat kita ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Hal ini membuat kita memahami kesulitan mereka dengan lebih baik dan membuat momen kekuatan dan keberanian mereka menjadi lebih dahsyat.

Salah satu tema paling menyentuh dalam buku ini adalah persaudaraan dan persahabatan yang tumbuh di antara para gadis. Hal yang diawali oleh persaingan berubah menjadi dukungan ketika mereka saling membantu melewati masa-masa sulit. Liggett menunjukkan betapa kuat dan memberdayakan ikatan ini, yang membuktikan bahwa solidaritas di kalangan perempuan adalah kunci untuk mengatasi masa-masa sulit.)


THINGS I LIKE

■The book talks about older men marrying younger girls, which makes us think about power differences in relationships. It brings up important topics like consent, having control over your own choices, and the possibility that someone might be taken advantage of. This shows how age gaps in relationships can sometimes be about real love, but other times they might not be fair. It gets us thinking about the complications that can come with relationships like this.

■The Grace Year is like a mirror reflecting lots of things we see in real life, like gender inequality, unfair rules, stereotypes, and using fear to control people. It explores themes like standing up against these things, fighting for what's right, being free to make your own choices, sticking together with others, and feeling strong and in control. Seeing these things in the book might make us think about what's happening in our own world and help us understand important issues better.

(■Buku ini juga berbicara tentang laki-laki yang lebih tua yang menikahi gadis yang lebih muda, sehingga membuat kita berpikir tentang perbedaan kekuatan dalam hubungan. Buku ini mengangkat topik-topik penting seperti consent/persetujuan, memiliki kendali atas pilihan kita sendiri, dan kemungkinan bahwa seseorang dapat dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan betapa perbedaan usia dalam suatu hubungan kadang-kadang bisa menjadi soal cinta sejati, namun di lain waktu mungkin menunjukkan ketidakadilan. Ini membuat kita berpikir tentang komplikasi yang bisa timbul dalam hubungan seperti ini.

■The Grace Year ibarat cermin yang mencerminkan banyak hal yang kita lihat dalam kehidupan nyata, seperti ketidaksetaraan gender, peraturan yang tidak adil, stereotip, dan penggunaan rasa takut untuk mengendalikan orang. Buku ini mengeksplorasi tema-tema seperti melawan hal-hal tersebut, memperjuangkan apa yang benar, bebas menentukan pilihan sendiri, tetap bersatu dengan sesama, dan merasa kuat dan memiliki kendali. Melihat hal-hal ini dalam buku mungkin membuat kita berpikir tentang apa yang terjadi di dunia kita sendiri dan membantu kita memahami isu-isu penting dengan lebih baik..)


CONCLUSION

In The Grace Year by Kim Liggett, the challenges the characters face reflect what many young women deal with in real life. The Grace Year itself is like a symbol for the tough situation girls go through, like figuring out who they are and fighting for their own rights. The book makes us think about things like how men and women are treated differently and why having control over your own life matters so much. It also shows how people in authority can use fear to keep others controlled. But through all the tough situation s, the girls in this story find strength in their friendships with each other. Tierney James and her friends show us what it's like to stand up against unfair rules and make your voice heard.

(Dalam The Grace Year karya Kim Liggett, tantangan yang dihadapi para karakter mencerminkan apa yang dihadapi banyak perempuan muda dalam kehidupan nyata. Grace Year sendiri ibarat simbol dari situasi sulit yang dialami perempuan, seperti mencari tahu siapa diri mereka dan memperjuangkan hak-hak mereka sendiri. Buku ini membuat kita berpikir tentang hal-hal seperti bagaimana laki-laki dan perempuan diperlakukan secara berbeda dan mengapa memiliki kendali atas hidup kita sendiri sangat penting. Hal ini juga menunjukkan bagaimana orang-orang yang berkuasa dapat menggunakan rasa takut untuk mengendalikan orang lain. Namun melalui semua situasi sulit, gadis-gadis dalam cerita ini menemukan kekuatan dalam persahabatan mereka dengan satu sama lain. Tierney James dan teman-temannya menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya menentang peraturan yang tidak adil dan membuat suara kita didengar.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.