The Dragon Republic by R.F. Kuang | Book Review

 


The Dragon Republic is the second book in The Poppy War trilogy by R.F. Kuang. It's a dark fantasy story following Rin, a young orphan from Nikan, as she deals with a world torn apart by war and politics.

In the first book, The Poppy War, Rin discovers she's got a knack for shamanism, a kind of magic based on connecting with the gods. She joins the elite Sinegard Academy, where she learns combat skills and battle tactics. But when war breaks out between Nikan and the Mugen Federation, Rin gets caught up in the conflict and becomes a powerful force against the Mugen Federation.

The Dragon Republic continues right where the first book left off. Rin, still haunted by the terrible things she saw and did during the war, wants revenge against the Empress of Nikan and the corrupt leaders in her own country. She teams up with the Dragon Warlord, a rebel leader, and his group called the Dragon's Army. They're all about overthrowing the Empress and starting fresh with a new government.

(Republik Naga adalah buku kedua dalam trilogi The Poppy War karya R.F. Kuang. Ini adalah kisah fantasi kelam yang mengikuti Rin, seorang anak yatim piatu dari Nikan, saat dia menghadapi dunia yang terkoyak oleh perang dan politik.

Di buku pertama, Perang Opium, Rin mengetahui bahwa dia mempunyai bakat dalam shamanisme, kekuatan yang didasarkan pada hubungan dengan para dewa. Dia bergabung dengan akademi elit Sinegard, tempat dia mempelajari keterampilan tempur dan taktik pertempuran. Namun ketika perang pecah antara Nikan dan Federasi Mugen, Rin terjebak dalam konflik tersebut dan menjadi kekuatan yang kuat melawan Federasi Mugen.

Republik Naga berlanjut tepat di bagian terakhir buku pertama. Rin, yang masih dihantui oleh hal-hal buruk yang dilihat dan dilakukannya selama perang, ingin membalas dendam terhadap Maharani Nikan dan para pemimpin korup di negaranya sendiri. Dia bekerja sama dengan Panglima Perang Naga, seorang pemimpin pemberontak, dan kelompoknya disebut Tentara Naga. Mereka semua ingin menggulingkan Maharani dan memulai pemerintahan baru.)

 

BOOK INFORMATION

Title            : The Dragon Republic - Republik Naga

Author        : R.F. Kuang

Translator    : Angelic Zaizai

Publisher      : Gramedia Pustaka Utama

Language      : Indonesian

Length           : 656 pages

Released       : August 2019

Read             : January 15-17, 2023

GR Rating    : 4.39

My Rating    : 4.50


CONTENT WARNINGS

■Graphic violence

■War-related trauma

■Drug use and addiction

■Self-harm and suicide

■Sexual content

■Political intrigue and betrayal

■Racism and discrimination

■Forced institutionalization

■Cannibalism

■Religious bigotry

■Animal death

 

BOOK REVIEW

The Dragon Republic takes us further into the aftermath of The Poppy War, throwing us into a world filled with chaos and political turmoil. One big thing this sequel does is really dig into war-related trauma, especially our main character, Rin. After all the brutality she went through in the first book, Rin's haunted by her actions and struggling with the darkness that now resides within hers. Rin's journey is raw, unflinching, and it hits hard. Through Rin's story, the author makes us think about the true cost of violence and what it takes to heal and move on.

On top of all that, The Dragon Republic dives deep into the politics of Nikan. We get a close-up look at the ethical dilemmas individuals and whole societies have to face when they're at war. Kuang paints a complex picture of politics, showing us all the manipulation, compromises, and sacrifices made when people are fighting for power or what they think is right.

The book shows the danger of totalitarianism and autocratic rule. The Empress and her regime keep everyone in line by spying on them, controlling what they say and do, and shutting down any voices that speak out against them. This feels a lot like what's happened in history with rulers who were all about controlling everything and not letting anyone disagree with them.

In this book, we also see ideological conflicts where how people have different ideas about how things should be run. The Dragon Warlord and his forces are fighting for a new government driven by ideals of equality and justice. But, the book also looks at the tough decisions and sacrifices that come with political changes. It asks if it's okay to do some not-so-great stuff if it means getting what you want in the end.

We also see the destructive nature of vengeance and the continuation of cycles of violence. It's a reminder that going after revenge without thinking about the bigger picture can just keep the cycle of violence going. The book warns us about the dangers of letting anger take over and how it can wreck everything in its path.

(Republik Naga membawa kita lebih jauh setelah Perang Opium, yang melemparkan kita ke dunia yang penuh dengan kehancuran dan kekacauan politik. Satu hal besar yang dilakukan sekuel ini adalah benar-benar menggali trauma terkait perang, terutama karakter utama kita, Rin. Setelah semua kebrutalan yang dialaminya di buku pertama, Rin dihantui oleh tindakannya dan berjuang melawan kegelapan yang kini bersemayam dalam dirinya. Perjalanan Rin terasa apa adanya, tak tergoyahkan, dan sangat menyentuh. Melalui cerita Rin, penulis membuat kita berpikir tentang dampak kekerasan yang sebenarnya dan apa yang diperlukan untuk sembuh dan melanjutkan hidup.

Selain itu semua, Republik Naga mendalami politik Nikan. Kita melihat dari dekat dilema etika yang harus dihadapi oleh individu dan seluruh masyarakat ketika mereka sedang berperang. Kuang melukiskan gambaran politik yang kompleks, yang menunjukkan kepada kita semua manipulasi, kompromi, dan pengorbanan yang dilakukan ketika orang-orang berebut kekuasaan atau apa yang mereka anggap benar.

Buku ini menunjukkan bahaya totalitarianisme dan pemerintahan otokratis. Maharani dan rezimnya menjaga semua orang tetap pada jalurnya dengan memata-matai mereka, mengendalikan apa yang mereka katakan dan lakukan, dan membungkam suara apa pun yang menentang mereka. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam sejarah dengan para penguasa yang selalu mengendalikan segalanya dan tidak membiarkan siapa pun berselisih paham dengan mereka.

Dalam buku ini, kita juga melihat konflik ideologis di mana orang-orang mempunyai gagasan berbeda tentang bagaimana seharusnya suatu hal dijalankan. Panglima Perang Naga dan pasukannya berjuang untuk pemerintahan baru yang didorong oleh cita-cita akan kesetaraan dan keadilan. Namun, buku ini juga membahas keputusan-keputusan sulit dan pengorbanan-pengorbanan yang terjadi seiring dengan perubahan politik. Buku ini menanyakan apakah boleh melakukan hal-hal yang tidak terlalu baik jika itu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan pada akhirnya.

Kita juga melihat sifat destruktif dari balas dendam dan berlanjutnya siklus kekerasan. Hal ini merupakan pengingat bahwa melakukan balas dendam tanpa memikirkan gambaran yang lebih besar hanya akan membuat siklus kekerasan terus berlanjut. Buku ini memperingatkan kita tentang bahaya membiarkan kemarahan mengambil alih dan bagaimana hal itu dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya.)


WHAT I LOVE

■ In The Dragon Republic, we get to keep meeting with the characters we love from The Poppy War. We see Rin facing new challenges and growing even more.

■ This sequel goes even deeper into the important ideas from The Poppy War, like war, power, and what's right and wrong. It helps us understand these ideas better by showing us more of the world and its history.

■ Just like in The Poppy War, The Dragon Republic keeps the excitement going. There are still plenty of battles, surprises, and twists that keep us on the edge of our seats.

■ This book digs deeper into what makes the characters tick. We learn more about why they do what they do and how they grow after everything that happened in the first book. It's cool to see how they change and how they relate to each other.

■ The Dragon Republic shows us how war and tough choices affect the characters, which makes us feel all kinds of things. It's emotional and makes us think about what really matters.

■ This sequel gets us thinking about power, right and wrong, and what it means to do the right thing. It's got us pondering some deep questions about life and society.

(■ Di Republik Naga, kita bisa terus bertemu dengan karakter yang kita sukai dari Perang Opium. Kita melihat Rin menghadapi tantangan baru dan semakin berkembang.

■ Sekuel ini membahas lebih dalam lagi ide-ide penting dari The Poppy War, seperti perang, kekuasaan, dan apa yang benar dan salah. Ini membantu kita memahami ide-ide ini dengan lebih baik dengan menunjukkan lebih banyak tentang dunia dan sejarahnya.

■ Sama seperti The Poppy War, The Dragon Republic terus menghadirkan keseruan. Masih banyak pertarungan, kejutan, dan lika-liku yang membuat kita terus ketagihan.

■ Buku ini menggali lebih dalam apa yang membuat karakternya tergerak. Kita belajar lebih banyak tentang mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka berkembang setelah semua yang terjadi di buku pertama. Sangat menyenangkan melihat bagaimana mereka berubah dan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain.

■ Republik Naga menunjukkan kepada kita bagaimana perang dan pilihan sulit memengaruhi karakter, yang membuat kita merasakan banyak hal. Ini adalah bagian emosional dan membuat kita berpikir tentang apa yang sebenarnya penting.

■ Sekuel ini membuat kita berpikir tentang kekuasaan, benar dan salah, dan apa artinya melakukan hal yang benar. Hal ini membuat kita merenungkan beberapa pertanyaan mendalam tentang kehidupan dan masyarakat.)

 

CONCLUSION

The Dragon Republic by R.F. Kuang keeps the epic story rolling from The Poppy War. It dives into important topics like power, war-related trauma, and politics. This book makes us think hard about the tough choices we make and their big impacts. With her cool writing and digging into real-life issues, Kuang gets us asking questions about power, standing strong when things get tough, and fighting for what's right when everything's stacked against us.

(Republik Naga oleh R.F. Kuang melanjutkan kisah epik dari The Poppy War. Buku ini menyelami topik-topik penting seperti kekuasaan, trauma terkait perang, dan politik. Buku ini membuat kita berpikir keras tentang pilihan sulit yang kita ambil dan dampak besarnya. Dengan tulisannya yang keren dan menggali isu-isu kehidupan nyata, Kuang membuat kita bertanya-tanya tentang kekuasaan, berdiri teguh ketika keadaan menjadi sulit, dan memperjuangkan apa yang benar ketika segala sesuatunya bertentangan dengan kita.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.