July 2022 Reading Wrap-Up | No 5 Star Reads

Hello friends! I'm back with the monthly reading wrap-up. It's been awhile, I think. This blog post is made for you who prefer writing format to a video. I already made a wrap-up video on my channel, and the contents are the same, because I used the same script for my video subtitles (it’s quicker and more convenient to do right?) so this blog will be in Indonesian and English.

Di bulan Juli ini, aku menyelesaikan 9 buku yang terdiri dari 3 buku fisik, 3 audiobook dan 3 e-book. Kombinasi yang bener-bener keren, xixixi. Aku juga nemu beberapa buku favorit di bulan ini meskipun bulan Juli ini bukan termasuk bulan membaca buat aku karena aku kayak hampir kena reading slump tapi aku tetep lanjut baca aja meskipun dengan perasaan yang beda dari biasanya. Dan ajaibnya bisa nyelesaiin kesembilan buku ini.

(During the month of July I finished 9 books which consist of 3 physical books, 3 audiobooks and 3 e-books. Cool number combination right? I also found some new favorites this month even though July wasn’t my reading month for me since I was about to be in a reading slump. But I continued anyway with different feelings than usual. Magically, I could finish all these 9 books.)


1. A Psalm for the Wild-Built (Monk and Robot #1) by Becky Chambers

Scribd (Audiobook)

Buku pertama yang aku selesaikan adalah satu e-book yang judulnya A Psalm for the Wild-Built oleh Becky Chambers yang merupakan sebuah novella, yang merupakan buku pertama dari Monk and Robot series. Buku ini bercerita mengenai Dex yang seorang monk yang merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya yaitu suara jangkrik. Kemudian Dex memutuskan untuk pindah ke wilayah lain dan di sana dia sukses menjadi seorang tea monk, atau orang-orang yang mendengarkan curhatan keluh kesah orang lain sambil menghidangkan teh untuk mereka. Meskipun sudah sukses, Dex masih merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya dan masih ada pertanyaan yang belum bisa dia jawab sehingga hal-hal ini membuat dia mengawali sebuah petualangan ke alam liar yang membuatnya bertemu dengan seorang robot. 

(The first book I finished is an a-book titled A Psalm for the Wild-Built by Becky Chambers which is a novella and the first book in Monk and Robot series. This book follows Dex who is a monk who felt something missing from their life which is cricket sound. Then Dex decided to move to other area, and they succeeded there as a tea monk or people who listen to other people while serving tea. Despite their success, Dex still felt something missing and there’s a question they aren’t able to answer which made them started an adventure to the wilderness where they meet a robot.)

Buku ini termasuk ke dalam cozy sci-fi dan settingnya di dunia yang cukup unik karena meskipun mereka sudah menerapkan berbagai teknologi canggih untuk pertanian, perumahan dan berbagai hal di kehidupan sehari-hari, masih ada dewa-dewa yang dihormati dan kehidupan manusia di sini sangat environment friendly. Terlepas dari semua kesempurnaan itu, tentu saja orang-orang di sini masih punya masalah, sehingga mereka datang ke tea monk untuk curhat dan mendapatkan teh. Buku ini menunjukkan ke pembaca kalau masalah itu ga selalu datang dari orang lain atau lingkungan kita melainkan juga bisa datang dari diri kita sendiri. Di dunia yang sempurna ini, orang-orang masih bisa punya masalah, salah satunya adalah Dex yang masih punya satu pertanyaan yang belum bisa dia jawab dan perasaan tidak puas yang membuatnya untuk memutuskan berpetualang ke alam liar.

(This book is a cozy sci-fi which is set in a unique world where they have all modern technology for farming, housing, and everything else, but also there are gods they respect and they live in an environment friendly way. Despite all the perfect life it has, the people in this book still have problems, so they come to the tea monk to talk about their problems and to get some tea. This book shows us that a problem doesn’t always come from other people or the environment, but it can also come from ourselves. In this perfect world, people can have a problem, including Dex who still has one question they couldn’t answer and the unsatisfied feeling which pushed them to go to the wilderness.)

Buku ini nggak hanya menunjukkan, tapi juga kayak seorang sahabat yang memberikan pendapat mengenai kehidupan sehari-hari. Jadi aku seneng banget waktu Dex udah ketemu sang robot, jadi mereka bisa berbagi pendapat. Aku jadi nemu beberapa atau banyak favorite quote dari buku ini, dan salah duanya adalah ‘We don’t have to fall into the same category to be of equal value.” Keren banget kan. Selama ini kita memaksakan untuk menyamaratakan segala hal agar semua mendapatkan hak yang sama dan terlihat memiliki derajat yang sama melalui pakaian yang sama, rumah yang sama, mobil yang sama hingga menu makan yang sama. Menurut aku bukan solusi, karena kita ini udah dari sononya equal alias sederajat, manusia aja yang suka menggolong-golongkan sesamanya ke dalam berbagai macam tingkat sehingga kita sendiri yang ribet kenapa kita berbeda-beda tingkatannya dan kita ingin menjadi equal kembali dengan menyamakan penampilan semua orang. Menyamakan penampilan atau bahkan muka yang sama, menurut aku bukan solusi, karena yang iya kamu malah makin tertekan dan nambah masalah dalam hidup kamu. Tapi kalau kamu menganggap hal-hal ini adalah hal hal yang seru dan perlu ditambahkan dalam kehidupan kamu, that’s okay, that’s no problem. Anyway, quote lain yang aku suka dari buku ini adalah “You keep asking why your work is not enough, and I don’t know how to answer that, because it is enough to exist in the world and marvel at it. You don’t need to justify that, or earn it. You are allowed to just live". Iya gais, you are allowed to just live. Personally, quote ini bikin aku terharu. Gimana dengan kamu? Kasih tahu di kolom komentar di bawah ya.

(This book is not only showing, but is like a best friend who gives opinions about daily stuff. So I’m happy when Dex finally meets the Robot and shares their opinions. I also found some or many new favorite quotes from this book, which are : ‘We don’t have to fall into the same category to be of equal value.” Cool, right? We always force everything to be the same so that they can get the same rights or look equal through the same clothes, same houses, same cars, or the same meal menu. For me, that’s not the solution, because we are originally equal. Humans who love to categorize themselves into different levels, and that make them confused why humans are not treated equally, and they want everyone to be equal (again) by making everyone look the same. The same appearance or even the same face is not the right problem solving, because it stresses people out more and adds more problems to people’s lives. But if you are the kind of people who think that these kinds of stuff is interesting and should be integrated to your life, then that’s okay and no problem. Anyway, another quote I like from this book is “You keep asking why your work is not enough, and I don’t know how to answer that, because it is enough to exist in the world and marvel at it. You don’t need to justify that, or earn it. You are allowed to just live". Yes, you are allowed to just live. Personally this quote made me cry. How about you? Let me know in the comment section below.)

Mungkin hal-hal yang gak begitu aku suka atau gak begitu aku pahami dari buku ini adalah penjelasan atau deskripsi mengenai beberapa teknologi bekerja dan bagaiman bentuk tata kota dari setting di buku ini. Meskipun agak kesulitan membayangkan, tapi otakku cukup bisa menciptakan gambaran yang cukup cozy sehingga aku masih bisa menikmati buku ini meskipun gak memahami gimana sih aslinya bentuk kota yang didatangi oleh Dex dan gimana bentuk dari hutan yang dia kunjungi. So, dengan segala pengajaran dan keindahan penulisannya, buku ini dapet 4,5 bintang.

(Things I don’t really understand is the narration about how some technology work and how the city’s buildings look like. Even though I had a bit difficulty to picture the setting, my brain could create images which are cozy enough to enjoy this book even though I couldn’t really know how the place Dex visited looked like including the forest. So, with all the quotes and beautiful writing, this book got 4,5 stars.)


2. Hana Khan Carries On by Uzma Jalaluddin

Storytel (Audiobook)Shopee Periplus (Paperback)

Buku kedua adalah Hana Khan Carries On oleh Uzma Jalaluddin yang aku dengarkan audiobooknya di Storytel dan buku ini menjadi unexpected favorit di bulan Juli.

(The next book is Hana Khan Carries On by Uzma Jalaluddin which I listened to the audiobook format on storytel and it becomes my July’s unexpected favorite.)

Buku ini bercerita mengenai Hana yang seorang keturunan India yang tinggal di Kanada, keluarganya menjalankan restoran biryani yang namanya Three Sisters Biryani Poutine. Selain membantu di restoran, Hana juga magang di radio Toronto karena dia suka banget radio dan podcast. Dia juga punya satu podcast sendiri untuk membicarakan mengenai kisah-kisah keluarga kaum minoritas di Kanada dalam hal ini kaum non kulit putih, dan dia punya pendengar setia sendiri lho. Tiba-tiba aja ada pengumuman kalau bakal ada dibuka satu restoran halal baru di wilayah tempat restoran mereka berdiri. Tentu aja three sisters yang satu-satunya restoran halal di wilayah tersebut yang udah struggling menarik pembeli menganggap pengumuman ini sebagai sebuah ancaman. Apalagi setelah calon pemilik restoran halal tersebut yang bernama Aydin dan bapaknya datang ke Three Sisters, dan bapaknya bilang kalau Three Sisters ini mendingan tutup aja. Hal ini membuat Hana berpikir keras gimana caranya agar Three Sisters tetap bertahan.

(This book follows Hana from Indian family living in Canada. Her family runs a halal restaurant named Three Sisters Biryani Poutine. Not only helping in the restaurant, she is also in training with Radio Toronto because she loves radio and podcast. She has her own podcast to talk about family stories from brown people living in Canada, and she has already a loyal listener there. One day there was an announcement about a new Halal restaurant will open in the same area where their restaurant built. As the only Halal restaurant which has been struggling to get customer, this announcement is like a threat. It gets worse when the owner of the new restaurant, Aydin, and his dad came to Three Sisters, and this dad said that Three Sisters is better closed for good. This makes Hana thinks harder to make Three Sisters survives.

Oh iya buku ini juga bikin aku bikin voice over yang berbeda dari script yang udah aku ketik sebelumnya buat video bujo bulan Agustus karena waktu aku mau record voice overnya, aku lagi baca buku ini. Dampak yang diberikan oleh buku ini terhadap aku tentu saja sangat positif, karena kayaknya aku jadi sedikit ketularan semangat Hana untuk sharing sesuatu di platform yang sudah aku miliki.

(This book made me create different voice over from my original script for my August bullet journal setup because I was in the middle of reading this book when I recorded the voice over. I got some positive stuff from this book, since I was a little bit influenced by Hana to share something I want in my own platform.)

Karena aku denger versi audiobooknya, aku jadi gak begitu tahu gimana penulisan beberapa istilah yang muncul di dalam buku ini. Namun aku suka cara narator membaca nama Aydin yang sukses bikin aku doki doki kalau bahasa mbak mbak animenya, dan tiap kali naratornya nyebutin nama-nama makanan yang ada di buku ini aku jadi pengen makan makanan India.

(Because I listened to the audiobook version, I didn’t really know how some terms are written in this book. But I love the way narrator speaks Aydin’s name which made me feel doki-doki (lol) and every time the narrator mentions the food names from this book, I wanted to eat some Indian foods.)

Aku kira buku ini bakal berhenti di trope enemies to lovers dan segala hal mengenai love interest dan enemies dari Hana, tapi ternyata enggak. Tokoh-tokoh yang muncul di buku ini yang aku kira hanyalah timun dan brambang mentah di nasi goreng, ternyata bukan. Mereka memegang kunci penting di dalam cerita terutama di bagian akhir cerita, jadi mereka bukan hanya timun dan brambang mentah, tapi suwiran ayam dan sosis bakar. Sosis bakar, dipotong agak tebel, enak banget, chef’s kiss.

(I thought this book would stop around enemies to lovers trope which unveils how the love interest and enemies evolve in this book. The characters in the beginning of this book which I thought were only cucumber cuts and raw onion to a fried rice, turned out to be the ones who hold important key to the ending, so they were not the cucumber and raw onion but the shredded chicken and roasted sausage. The roasted sausage which is cut into thick pieces, chef kiss!

Ending dari buku ini juga termasuk dalam ending favorit aku, dan setelah membaca komentar di Goodreads, aku jadi pengen baca bukunya Uzma Jalaluddin yang lain.

(I like the ending of this book, and after reading some Goodreads comments under this book, I want to read another book by Uzma Jalaluddin.)


3. The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde

Shopee GPU (Paperback) 

Buku ketiga yang aku selesaikan adalah The Picture of Dorian Gray oleh Oscar Wilde yang aku mulai baca di bulan Juni dan baru selesai di bulan Juli, karena aku kehabisan sticky notes dan somehow I read it so slowly. Buku ini termasuk dalam 22 books I want to read on 2022 dan aku pengen baca buku ini karena bercerita tentang Dorian Gray yang punya penampilan muda, kinclong dan sangat menarik. Penampilannya ini memberikan inspirasi bagi seorang pelukis untuk menciptakan lukisan Dorian Gray. Dengan bertambahnya usia dan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukannya, penampilannya masih tetap kinclong, namun ternyata lukisannya yang malah berubah jadi lebih tua dan menjadi menyeramkan.

(The third book I finished is The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde which I started on June and just finished on July. I ran out of sticky notes and somehow I read it so slowly. This book is one of 22 Books I want to read on 2022 and I want to read this book because it follows Dorian Gray whose youthful, sparkling, and good-looking appearance. His appearance inspired a painter to create Picture of Dorian Gray. His appearance remains like that after years and all the bad stuff he did, but his picture was the one turning older and scarier.

Baca buku ini tuh ngabisin sticky notes, karena banyak banget bagian dari buku ini yang menjadi  pesan bagi kehidupan, terutama bagian dari percakapan-percakapan Lord Henry. Meskipun aku gak sepenuhnya setuju dengan kata-kata Lord Henry, tapi aku suka banget ketika karakter ini mulai mengoceh panjang lebar penuh sindiran, penuh pesan namun gak ada hard feelings. Jangan lupa cek trigger warning buku ini ya karena ada pembunuhan, bunuh diri, perburuan hewan, darah, dan lain sebagainya. Yang tentu saja di suatu malam, setelah baca buku ini aku jadi mimpi buruk setelah baca part pembunuhan di buku ini, jadi aku mimpi pembunuhan itu. So, do read the trigger warnings guys!

(This book made me running out of sticky notes because there are many part of this book which are the life quotes you want to capture, especially Lord Henry’s talks. Even though I didn’t fully agree with his words, I love it when starts speaking paragraph after paragraph with advices, insights and sarcasm, but no hard feelings. Don’t forget to check the trigger warning because this book contains murder, suicide, animal hunting, blood, etc. One night after reading the murder part of this book I got nightmare around murder. So, do read the trigger warning ya guys!)

Menurut aku buku ini menunjukkan ke kita kalau orang-orang yang selalu berbuat buruk dan gak pernah ketahuan itu gak selamanya hidupnya bakal santai  atau tenang, dia bakal diganggu oleh pikiran-pikirannya sendiri, dan dia jadi penuh kecurigaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dengan segala quotes favorit  penuh sindiran dan pesan yang ada di dalam buku ini, aku ngasih rating 4,5 bintang.

(For me, this book shows us that people who did bad stuff and never got revealed aren’t always living peacefully. They will be disturbed by their own thoughts and they become suspicious of people around them. So, with all the quotes, advices and messages inside this book, I gave it 4,5 stars.)


4. This Time will be Different by Misa Sugiura

Storytel (Audiobook)

Buku keempat yang aku selesaikan adalah This Time will be Different oleh Misa Sugiura yang merupakan buku contemporary yang ada slice of life, romance, kehidupan sekolah, persahabatan, kehidupan keluarga dan social commentaries mengenai asian people di US. Buku ini bercerita mengenai CJ yang selain bersekolah juga membantu di toko bunga milik bibinya yang bernama Hana. Jadi ini buku kedua yang ada tokoh namanya Hana. Yang aku suka buku ini adalah banyak flower language yang disebutkan untuk berbagai occasion di buku ini karena tokoh utama kita  suka banget bekerja membantu bibinya di toko bunga tersebut.

(The fourth book I finished is This Time Will Be Different by Misa Sugiura which is a contemporary slice of life with romance, school life, friendship, family life and social commentaries about Asian people in The US. This book is about CJ who is not only going to school but also helping Hana, her aunt in the flower shop. This is the second book with Hana as the character name. I like the flower language included in any occasion inside this book since our main character loves working with her aunt in this flower shop.

Selain itu, isi pikiran dan pendapat CJ ini juga sangat menarik untuk diikuti. Kayak pendapat dia mengenai keluarganya, teman-teman, love interest hingga kehidupan orang-orang asia di amerika menurutku menarik meskipun aku gak sepenuhnya setuju dengan keputusan yang diambil oleh CJ di dalam buku ini. Sebelum membaca buku ini jangan lupa cek trigger warning dari bukunya ya karena di buku ini CJ juga bakal menampilkan cuplikan sejarah saat perang dunia kedua dimana dia berfokus pada perlakuan pemerintah Amerika terhadap para imigran Jepang dan bagaimana para imigran Jepang ini bertahan.

(CJ’s thoughts and opinions are interesting to follow, such as her opinions about her family, friends, love interest until Asian people in America, even though I don’t fully agree with her decisions. Before reading, please check the trigger warning because CJ would tell the history around WWII around American government treatment to Japanese immigrant there, and how Japanese immigrants survived during that period.

Meskipun gak ada major event yang mengarahkan buku ini mau kemana, aku cukup menikmati audiobook ini dan aku jadi dapet pengetahuan mengenai gimana keadaan para imigran Jepang di Amerika dari sisi seorang Japanese-American, sehingga buku ini dapet rating 3,5 bintang.

(Even though there is no major event which leads where the book is going, I enjoyed the books and I got some info about Japanese immigrant from the point of view of a Japanese American, so this book got 3,5 stars.




5. The Soulmate Equation by Christina Lauren

Storytel (E-book & Audiobook)Web Periplus (Paperback)

Buku selanjutnya yang aku selesaikan adalah The Soulmate Equation oleh Christina Lauren. Buku ini termasuk ke dalam 22 books I want to read on2022 dan the next book dengan cover warna kuning yang aku baca di bulan Juli. Buku ini bercerita mengenai seorang signle mother bernama Jess yang merupakan seorang ahli statistik yang bekerja sebagai freelancer. Jess dan putrinya yang bernama Juno ini tinggal di sebuah komplek apartemen yang sama dengan Nana dan Pop, atau kakek neneknya Jess. Suatu hari Jess dan sahabatnya yang bernama Fizzy ketemu Dr. River Pena, yang ternyata adalah founder dari sebuah perusahaan aplikasi yang bernama GeneticAlly, yang merupakan aplikasi yang bisa menemukan siapa soulmate kamu melalui DNA yang didapat dari sampel air liur.  Jess yang akhirnya mencoba aplikasi ini dan mengirimkan sampel air liurnya, suatu hari mendapatkan notifikasi kalau dia sudah menemukan soulmate yang tingkat kecocokannya 98% yang disebut Diamond Pairing yang belum pernah ada sebelumnya. Dan ternyata pasangannya ini adalah Dr. River Pena, yang first impression bagi Jess ini meskipun good looking tapi sangat annoying.

(The next book I finished is The Soulmate Equation by Christina Lauren. This book is also among my 22 Books I want to read on 2022 list and is the next book with yellow cover I read on July. This book follows a single mother named Jess who is a statistician and works as a freelances. Jess and her daughter, Juno, lives in the same apartment area with Nana and Pop, Jess’ grandparents. One day, Jess and her best friend, Fizzy met Dr. River Pena, a founder of an app company named GeneticAlly, which is an app to find your soulmate through DNA analyzed from spit sample. Jess finally sent her sample and got a notification that she has found a soulmate with 98% match and it’s called Diamond Pairing. This hasn’t happened before. It turned out her partner is Dr. River Pena, whom Jess had annoying first impression on him despite his good looking.)

Aku suka banget baca buku ini karena narasi atau pikiran-pikiran Jess cukup bikin ketawa. Dari segi penokohan, aku suka semua karakternya mulai dari Jess, Fizzy, Juno, Nana, Pop, River hingga pegawai GeneticAlly dan reporter yang mewawancarai mereka. Mungkin karakter yang gak begitu aku suka adalah ibunya Jess yang yaa begitulah.

(I like reading this book because Jess’ thoughts made me laugh. From the characters side, I like all the characters such as Jess, Fizzy, Juno, Nana, Pop, River, even GeneticAlly’s staff and reporter who interviewed them. I might not really like Jess’ mom in this book, because you know lah.

Bagian romancenya, aku suka karena gak melulu isinya romance. Kita bisa tahu cerita dari kedua karakter yaitu Jess dan River dan kita bisa tahu gimana hubungan mereka berdua ini berkembang. Setelah semua hal berjalan lancar, tentu saja di sebuah buku kita butuh sebuah masalah. Dan biasanya masalahnya cukup mengkhawatirkan kalau buku romance dan aku gak begitu suka konflik yang ada di dalam buku romance. Namun ternyata konflik yang muncul  di buku ini aku suka dan menarik. Dan penyelesaian dari konflik tersebut adalah termasuk penyelesaian yang aku suka terutama keputusan Jess yang diambil  mengenai ibunya. Sehingga buku ini dapet rating 4 dari 5 bintang.

(This book is not only about romance. We can know the backstory of the 2 characters, Jess and RIver and we can see how their relationship grows in this book. After everything going well, of course we need some problems in a book. I usually don’t like the conflict inside a romance book, but it turned out to be an interesting conflict. The ending of the conflict is also my favorite, especially Jess’ decision about her mother. So this book got 4 stars.)


6. Contest of Queens (Frean Chronicles #1) by Jordan H. Bartlett

Storytel (E-book & Audiobook)

Buku selanjutnya adalah sebuah audiobook yang aku temukan di Storytel yang I have no idea about. Dan begitu aku cek di Goodreads, ternyata gak begitu banyak yang review buku ini, jadi aku merasa sudah menemukan sebuah hidden gem. Judul buku ini adalah Contest of Queens oleh Jordan H. Bartlett. Dari judulnya sudah sangat menarik menurut aku karena aku nggak tau apapun mengenai buku ini kecuali dari judulnya yang menunjukkan buku ini bakal mencari kandidat ratu melalui sebuah kompetisi. Selain itu aku suka banget dengan covernya yang cantik banget dan tentu saja setelah baca blurbnya aku jadi makin tertarik untuk baca buku ini.

(The next is an audiobook I found on Storytel which I had no idea about. When I checked on Goodreads, there were not many reviews about it, so I felt like finding a hidden gem. This book is Contest of Queens by Jordan H. Bartlett. From the title, it’s interesting for me. I didn’t know anything about it but a competition for queens through the title. Besides, I love the beautiful cover and after reading the blurb, I became more interested in this book.

Di storytel ada versi e-book dan audiobook. Awalnya aku denger versi audiobooknya tapi karena lama-lama semakin banyak istilah yang baru aku denger, aku jadi switch ke versi e-booknya. Dan aku jadi bacanya lebih cepet di versi e-book tersebut.

(There are e-book and audiobook formats available in Storytel. At first I listened to the audiobook version  but I found so many new terms here, so I switched to the e-book format. And I read it faster in this format.

Contest of Queens ini menceritakan sebuah wilayah yang dibagi menjadi upper realm dan lower realm atau kalau dibahasa Indonesiakan menjadi dunia atas dan dunia bawah, dimana seluruh kegiatan pemerintahan ada di dunia atas. Dunia atas dan dunia bawah ini dipisahkan dengan jembatan, menurut aku dunia atas ini kayak daerah pegunungan gitu sih.  Komunikasi antar dunia atas dan dunia bawah ini sangat dibatasi. Kalau orang orang dari dunia atas mau ke dunia bawah masih bisa, namun orang orang dari dunia ke dunia atas sangat jarang dan mungkin gak boleh, karena orang-orang dunia bawah ini disebut sebagai orang-orang yang tidak berpendidikan, miskin dan penuh dengan kriminal diantara mereka. Yang menarik lagi dari buku ini adalah posisi dan perlakuan gender yang dibalik. Sistem pemerintahan yang umum di buku ini adalah Queendom yang dipimpin oleh seorang ratu. Wanita di sini berada di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, militer ilmu pengetahuan, dan berbagai hal lainnya hingga pertanian dan peternakan. Karena dibalik, jadi posisi laki-laki di buku ini dianggap sebagai orang-orang yang hanya mengandalkan kekuatan saja namun kurang cerdik, sehingga mereka gak begitu dipercaya untuk melakukan hal-hal penting di dalam sebuah organisasi pemerintahan. Sehingga para laki-laki ini punya kesempatan yang sangat terbatas untuk berkiprah atau menunjukkan kemampuan mereka.

(Contest of Queens tells a story about a place which is divided into upper realm and lower realm, where all the government activities happen in the upper realm. Upper realm and lower realm are parted by a bridged which goes up, and I think upper realm is like a mountain area? Communication between two realms are so limited. People from upper realm might go to the lower realm, but people from lower realm can’t go to the upper realm because they are seen as uneducated people, poor, and full of criminals. The interesting part about this book is the reversed position and treatment for gender. The common government system in this book is Queendom which is ruled by a Queen. Women are in every aspect of life in this book such as government, military, education, science, and many more even farming. Since everything is reversed, men are seen as people who only use their strength and less smart, so they can’t be trusted in a bigger organization such as queendom. Men have limited chance to show their abilities there.

Buku ini diceritakan dalam 2 sudut pandang yaitu yang pertama adalah Jacqueline atau Jacs yang seorang inventor dari dunia bawah yang sangat pintar dalam menciptakan dan mengoperasikan mesin-mesin. Kemudian yang kedua adalah Cornelius atau Connor yang tinggal di dunia atas yang merupakan seorang pangeran dari ratu yang sedang berkuasa. Karena keingintahuan Connor mengenai dunia bawah, hal ini membuat dia iseng bikinsurat yang dia hanyutkan lewat air terjun yang membatasi dunia atas dan dunia bawah, dan berharap ada penduduk dunia bawah yang menemukannya dan bisa menjawab suratnya tersebut. Dan tentu saja surat itu ditemukan oleh Jacs dan dimulailah korespondensi Jacs dan Connor.

(This book is told through 2 POVs which are Jacqueline or Jacs, an inventor from lower realm who is really smart and able to create and operate machines. Then there is Cornelius or Connor who lives in upper realm, as a prince from the current Queen. Connor’s curiousity lead him to write a letter which later he sent through a waterfall which parted upper realm and lower realm, and he hoped there’s a lower realm citizen found this letter and replied. And ofc, his letter was found by Jacs, then Jacs and Connor’s correspondence began.)

Suatu hari waktu ada kunjungan ratu ke dunia bawah, terjadi sebuah penembakan yang menewaskan sang ratu, dan akan segera diadakan kompetisi untuk menentukan ratu selanjutnya yang hanya bisa diikuti oleh seluruh wanita di dunia atas.

(One day queen visited the lower realm, and there’s a shooting which killed her. So there will be a competition to determine the next queen where all the women from the upper realm can participate.) 

Buku ini menarik banget menurut aku karena keadaannya dibalik yang meskipun I don’t really enjoy seeing people think that the less powerful ones as the worse, tapi menurutku keinginan penulis untuk menunjukkan gimana kalau posisi gendernya dibalik  sangat baik tergambarkan di dalam buku ini. Selain itu, aku suka persahabatan yang dimiliki oleh Jacs dengan orang-orang yang ditemuinya. Dan Jacs ini termasuk tokoh utama yang langsung aku suka begitu aku mulai baca buku ini.

(This book is interesting for me even though I don’t really enjoy seeing people think that the less powerful ones as the worse side, but I think the author’s wishes to show a story where everything is reversed are well told in this book. Besides, I like Jacs’ friendship with people she met. And Jacs is one of lovely main characters I like from the start.

Secara keseluruhan buku ini menampilkan bagaimana prejudice dan penggolongan orang-orang berdasarkan penampilan dan dimana mereka tinggal mempengaruhi gimana orang-orang tersebut diperlakukan  Aku menikmati banget baca buku ini dan ending dari buku ini bikin pembaca pengen lanjut baca ke buku kedua. Dan buku ini dapet rating 4,5 bintang.

(Overall, this book shows how prejudice and categorizing people based on their looks and where they live determine how they are treated. I enjoyed reading this book and the ending makes the readers want to continue to book 2. This book got 4,5 stars.)


7. A Monster Calls - Panggilan Sang Monster by Patrick Ness

Buku selanjutnya yang aku selesaikan adalah A Monster Calls atau Panggilan Sang Monster oleh Patrick Ness yang aku baca ini adalah edisi terjemahan gramedia yang ada ilustrasinya. Buku ini bercerita mengenai Connor yang selalu mendapat mimpi buruk yang sama sejak ibunya jatuh sakit. Namun pada suatu malam, mimpi buruknya berbeda. Ada suatu makhluk yang menyeramkan yang mendatanginya dan meminta sebuah kebenaran dari Connor. Dan ini buku kedua yang aku baca di bulan ini yang ada tokoh namanya Connor di dalamnya.

(The next book I finished is A Monster Calls or Panggilan Sang Monster by Patrick Ness. I read the translated edition published by Gramedia with illustrations. This book follows Connor who constantly got the same nightmare since his mom fell ill. But one night, his nightmare was different. There’s one creature asked a truth from him. This is the second book I read this month with character named Connor.)

Buku ini penuh dengan trigger warning, jadi jangan lupa cek sebelum baca buku ini ya. Vibe buku ini cukup gelap dan agak-agak mirip dengan mimpi yang aku dapet semalem sebelum filming video ini.

(This book contains a lot of trigger warnings, so don’t forget to check them before reading. This has dark vibes which similar to the nightmare I got last night before filming the video, so…

Menurut aku buku ini tuh mengenai ketakutan yang ada pada diri manusia. Kalau kita terus hidup dalam ketakutan bahkan takut sama ketakutan kita sendiri, hal itu bakal mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan kita sendiri gak bisa memahaminya. Kayak otak kita tuh langsung bakal solusi untuk melakukan sesuatu yang kita sendiri langsung menerimanya tanpa memikirkan konsekuensi lainnya. Menurut aku, ketakutan itu bikin hidup kita yang udah ribet jadi makin ribet karena kita jadi overthinking terhadap segala hal atau keputusan yang pengen kita ambil. Dan efek dari ketakutan dan bagaimana seseorang gak mau menerima ketakutan itu, digambarkan dan diceritakan sangat baik di buku ini.  Kemudian, saat kita mengetahui apa sih yang sebenernya kita takutkan, kenapa kita takut, dan kita mengakui keberadaan dari ketakutan itu, kita akhirnya bisa melakukan hal yang terbaik untuk masalah-masalah yang kita hadapi. Meskipun dengan menerima ketakutan yang kita miliki gak otomatis menyelesaikan semua masalah yang kita punya, namun at least hidup jadi lebih ringan. Dan buku ini dapet rating 4 bintang.

(I think this book is about fear inside us. When we live by fear even fearing the fear itself, we might do things we can’t understand. Our brain kinda gives us solutions for everything and we immediately accept it without thinking about consequences. For me, this kind of fear makes our complicated life to be more complicated since we tend to overthink everything including one decision we need to take. What fear can do and how it changes people who can’t accept it, are well told in this book. When we know what we fear, why we fear, and accept the fear, we finally are able to do the best thing for our problems. Even though by recognizing and accepting the fear can’t immediately solve all our problems, at least it makes our lives lighter. This book got 4 stars.


8. Animal Farm - Republik Hewan by George Orwell

Shopee Togamas Supratman (Paperback)

Buku selanjutnya yang aku selesaikan adalah sebuah buku klasik yang berjudul Animal Farm oleh George Orwell. Bukunya aku baca ini adalah versi terjemahan Gramedia yang cukup tipis sehingga aku menyelesaikannya dalam sehari aja.

(The next book I read is a classic titled Animal Farm by George Orwell. I read the translated edition published by Gramedia, the book has fewer pages and I finished it in one day.)

Buku ini bercerita mengenai pemberontakan hewan-hewan di pertanian Manor yang merasa diperbudak dan diperlakukan semena-mena oleh manusia. Tentu saja mereka menang dalam pemberontakan itu, namun apakah kemenangan yang mereka capai ini membaca kemerdekaan yang mereka bayangkan sebelumnya? 

(This book is about animal’s rebellion in Manor Farm because they were treated as slaves and so badly by humans. Of course, they won in the rebellion, but would their win bring the independence like they have imagined before?)

Buku ini adalah buku dystopia klasik yang ditulis sebagai bentuk anti-stalinisme oleh George Orwell. Meskipun begitu, buku ini cukup relate ke kehidupan manusia sebagai individu yang perilakunya digambarkan oleh perilaku hewan-hewan yang ada dalam buku ini. Kayak ada kuda yang bekerja keras bagai kuda namun ketika dia merasa ada hal-hal yang membuat dia kecewa dan dia gak bisa memahaminya, dia bekerja makin keras. Kayak manusia gak sih? Waktu seorang manusia ada masalah yang gak bisa dia selesaikan, dia melampiaskan (perasaan) nya dengan bekerja semakin keras. Kemudian, waktu undang-undang hewanisme diedit kayak ada 1 pasal dimana tulisannya “hewan-hewan dilarang membunuh hewan lain” kemudian akhirnya pasal ini diedit menjadi “hewan-hewan dilarang membunuh hewan lain tanpa alasan”. Ini ngingetin kita ke diri kita sendiri gak sih? Waktu kita udah bikin rules untuk diri kita sendiri, kemudian suatu hari kita melanggar rules itu dan akhirnya kita mencari kelemahan dari peraturan yang kita buat sendiri itu yang bisa membenarkan perbuatan kita yang melanggar peraturan tersebut. Buku ini secara keseluruhan dapet rating 4 dari 5 bintang.

(This book is a classic dystopian which was written as anti-stalinism form by George Orwell. However, this book relates so much to humans as individual whose habits are pictured by the animals inside this book. Like, there was a horse who worked so hard, but when something disappointed him and he couldn’t understand it, he worked even harder. It reminds me of humans, people who have difficult problems they can’t undertand, pour their feelings into everything they do, and they chose to work overtime. Then there is one part where Animalism was edited. It stated that “Animals are forbidden to kill other animals”, but then it became “Animals are forbidden to kill other animals without reasons”. Sounds familiar? We have some rules for ourselves, then one day we violate it. We then find the weakness of these rules to support our violation which later can make our actions agreeable. So, this book got 4 out of 5 stars.


9. Dial A for Aunties (Aunties #1) by Jesse Q Sutanto

Shopee Periplus (Paperback)

Setelah buku-buku penuh trigger warning dan gelap yang aku baca sebelumnya, buku terakhir yang aku selesaikan di bulan Juli ini cukup ringan, meski tetep ada trigger warningnya. Buku ini adalah Dial A for Aunties oleh Jesse Q Sutanto yang aku baca bukunya minjem, hahaha. Awalnya aku santai aja gitu, karena aku udah simpen audiobooknya di bookshelf storytel aku, namun ketika aku cek lagi ternyata lagi-lagi audiobooknya menghilang, jadi aku buru-buru nyelesaiin buku ini sebelum waktu pinjemnya habis.

(After the books full of trigger warnings and dark vibes, the last book I finished on July is lighter, even though it contains some trigger warnings. It is Dial A for Aunties by Jesse Q Sutanto which I borrowed before. At first I read it so slowly because I have saved the audiobook version in my Storytel bookshelf, but then it disappeared, so I immediately increased my reading speed lol)

Buku ini bercerita mengenai Meddy yang seorang Chinese American yang tinggal bersama ibunya, dan hubungannya dengan ibu dan ketiga bibinya ini cukupdekat sehingga Meddy ini kayak gak bisa pergi kemana-mana. Ditambah lagi dia adalah fotografer di bisnis keluarganya. Suatu hari, Meddy harus kencan dengan seorang pemilik hotel yang ditemukan ibunya di Tinder. Jadi ibunya bikin akun Tinder buat Meddy buat nyari jodoh. Dan tentu saja kencan ini berakhir dengan kacau karena cowoknya ini meninggal yang tentu saja bikin Meddy panik dan bingung harus ngapain.

(This book is about Meddy, a Chinese American girl who lives with her mother. Her relationship with her mom and aunts are so close, so Meddy feels like stuck there. Besides, she is the photographer for her family business. One day Meddy had to go on a blind date with a hotel owner whom her mom found on Tinder. Her mom made Meddy’s Tinder acc to find her a date. Of course this blind date turned out messy and her date died which made Meddy panicked and didn’t know what to do next.)

Buku ini kocak banget, terutama narasi Meddy tentang keluarga dan mantan pacarnya. Terutama setelah para auntie dan ibunya turun tangan untuk membantu menyelesaikan masalah Meddy, kencan Meddy yang cukup kacau tersebut. Jadi buku ini tuh semacam kontemporari romance dengan social commentaries dan sedikit thriller di dalamnya.

(This book made me laugh a lot especially Meddy’s thoughts about her family and her ex boyfriend, and when the aunties tried their best to help Meddy solve the problems. So, this book is like a contemporary romance with comedy and social commentaries and a little bit thriller in it.

Sebagai pembaca, aku bisa relate ke Meddy yang gak mau meninggalkan ibu dan bibinya karena gak pengen dianggap kayak sepupu-sepupunya yang lain yang gak inget keluarga. Keputusan Meddy untuk tetep tinggal di kota yang sama dengan ibu dan bibi-bibinya ini malah bikin dia merasa stuck dan gak bisa pergi kemana-mana. Terus gimana budaya asia yang menghormati dan mendahulukan orang-orang yang lebih tua itu juga sangat relatable. Makanya aku suka banget baca buku-buku dari Asian author yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang Asia karena di dalamnya ada social commentaries mengenai kehidupan orang-orang Asia yang menjunjung tinggi mitos dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua, yang menurut aku ada sisi positif dan negatifnya. Biasanya tuh dari sebuah buku aku suka quote yang ngasih semangat atau motivasi, atau quote yang menyindir mengenai kebiasaan manusia yang merugikan. Namun buat buku ini quote-quote favoritku adalah quote-quote ngaco yang bikin aku ketawa sepanjang membaca buku ini. Dan untuk quote-quote yang lain beberapa sudah aku taruh di reading thread aku di bulan Juli.

(As a reader, I can relate to Meddy who doesn’t want to leave her mother and aunts because she doesn’t want to be seen like her cousins who left their families. Meddy’s decision to live in the same city as her family made her feel stuck and can’t go anywhere. There are some familiar Asian cultures presented in this book such as respecting the older people. I love reading books by Asian authors which told the story of Asian people because they have some relatable social commentaries about Asian who love myths and respect the older people, which I think it has positive and negative sides. I usually love quotes which give some motivation or the ones which talk about human’s bad behaviour. But for this book, my favorite quotes are the ones which made me laugh a lot. And for other quotes I like are in my twitter reading thread)

Setelah segala keribetan yang dihadapi oleh para tokohnya, ternyata penyelesaian masalahnya asik. Yang paling aku suka adalah kerja sama dari para tokoh dalam buku ini untuk kebaikan banyak orang. Endingnya tentu saja happy ending buat tokoh utama dan tokoh tidak utama. Sehingga aku kasih buku ini rating 4 dari 5 bintang.

(After all the problems, the ending for the book is cool. My most favorite is how the characters cooperate to solve the problems for everyone’s good. It’s a happy ending for our main and side characters. So this book got 4 stars.)


The Wrap-Up


Shop my outfit in this video : Sweater - Vanilla (Shopee) | Hijab - Khaki (Shopee)

Yang menarik di bulan Juli ini adalah ada beberapa nama tokoh yang sama dari buku yang berbeda kayak Hana dari buku Hana Khan Carries On dan This Time will be Different, kemudian ada Connor dari buku Contest of Queens dan buku A Monster Calls atau Panggilan Sang Monster. Meskipun gak ada buku yang dapet rating lima, tapi rata-rata buku yang aku baca bulan Juli ini rata-rata dapet rating 4 atau 4,5, jadi aku sangat senang nemu buku yang aku suka dan enjoy dalam membacanya. Selain itu ada beberapa buku yang covernya berwarna sama kayak Hana Khan Carries On dan The Soulmate Equation [sama Dial A for Aunties juga] yang punya cover warna kuning. Kemudian ada 2 buku yang covernya pale orange yaitu Animal Farm dan This Time Will be Different. Dan ada 2 buku dengan cover warna hitam yaitu The Picture of Dorian Gray dan A Monster Calls. Untuk buku dengan cover terfavorit bulan ini adalah Contest of Queens oleh Jordan H. Bartlett. Jika kalian penasaran, bukunya ada format e-book dan audiobook di storytel. Mumpung belum banyak yang baca, belum viral. Buat kalian yang suka baca buku-buku yang belum banyak direview, bisa banget baca buku ini. Bukunya sangat menarik. Let me know your thoughts about this book di kolom komentar di bawah ya.

(The interesting thing from July is there are some characters with the same names from different books such as Hana from Hana Khan Carries On and This Time Will Be Different, then Connor from Contest of Queens and A Monster Calls or Panggilan Sang Monster. Even though there is no 5 star reads this month, the books I read got 4 or 4,5 stars. I’m so happy to find some books I enjoyed reading. Besides there are some books with the same color in the covers such as Hana Khan Carries On, The Soulmate Equation and Dial A for Aunties with yellow cover. Then there are 2 books with pale orange, Animal Farm and This Time Will Be Different. And 2 books with black covers are The Picture of Dorian Gray and A Monster Calls. My most favorite cover of the month is Contest of Queens by Jordan H Bartlett. If you want to read it, it’s available on Storytel in both e-book and audiobook formats. It’s kind of underrated YA Fantasy. So if you like reading underrated books, this book can be an option for you. This book is interesting. Let me know your thoughts about this book below.)



So that’s all the books I read during the month of July. Ada 9 buku, tapi rasanya udah kayak ngoceh banyak banget. Jadi ini mulai lapar. Pengen nasi goreng pake suwiran ayam dan sosis. So, gimana dengan kamu? Kamu baca buku apa di bulan Juli? Dan apa kamu nemu buku favorit juga? Tell me down below ya. 

(So that’s all the books I read during the month of July. There are 9 books but I think I talked too much. Now I’m hungry. I want fried rice with shredded chicken and sausage. So, how about you? What book did you read on July? Did you find a new favorite too? tell me down below ya. Tell me down below ya.)


0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.