The Forest Brims Over by Maru Ayase | Book Review


"It never occured to me that those stories were all aimed at men. I just thought they were stories about people, people like me."

The Forest Brims Over tells the story of Nowatari Kazuya and his wife, Rui. Nowatari is a writer who gets a lot of ideas from his relationship with Rui, who's been his muse for a long time. One day, Rui turned into a forest which grows inside their house. The story shows us different point of views, so we get to see what their marriage is like from different angles. It talks a lot about how men and women are treated differently, especially in fields like writing. It shows us the discrimination women deal with in a field where men are in charge, like being seen as annoyance and being treated like objects.

(The Forest Brims Over berkisah tentang Nowatari Kazuya dan istrinya, Rui. Nowatari adalah seorang penulis yang mendapat banyak ide dari hubungannya dengan Rui yang sudah lama menjadi inspirasinya. Suatu hari, Rui berubah jadi pepohonan yang terus tumbuh di dalam rumah mereka. Cerita ini menunjukkan kepada kita beberapa sudut pandang berbeda, jadi kita bisa melihat seperti apa pernikahan mereka dari sudut berbeda. Buku ini banyak berbicara tentang bagaimana laki-laki dan perempuan diperlakukan secara berbeda, terutama dalam pekerjaan seperti penulis. Buku ini menunjukkan kepada kita diskriminasi yang dihadapi perempuan di bidang di mana laki-laki memegang kendali, seperti dianggap sebagai pengganggu dan diperlakukan seperti objek.)


Title                       : The Forest Brims Over

Original title        : 森があふれる

Author                  : Maru Ayase 

Translator           : Haydn Trowell

Publisher             : Counterpoint Press

Language             : English 

Length                  : 208 pages

Released               : July 25, 2023

Read                     : September 9 - 10, 2023

GR Rating            : 3.58

My rating            : 3.75

"The forest in front of him was filled with that same late-night gloom. It was a place that he didn't want to remember, a place that permitted neither sleep nor escape."


The Forest Brims Over talks about how the relationships between men and women, especially in the publishing world. This book takes us into a place where women are fighting hard to be treated better. It shows how women deal with being treated unfairly and not respected enough in a world mostly run by men. The author shows clearly the everyday struggles women face, showing how even small things can make a big difference.

One important part of this book is how women often get exploitated and seen as objects, not just in art but in life too. It talks about whether it's okay to use someone's life and struggles for art without permission. This makes us think about where the line is between being creative and respecting someone's privacy.

The story reminds us that a lot of the stories we hear or read are based on real people's lives, especially women's lives, which often get overshadowed by men's stories. It makes us think about how artists should think about the people they're writing about and how it affects them.

It's not just about women, though. This book also talks about toxic masculinity where men feel pressured to always be successful and tough. It shows how men are expected to be competitive and do well in everything, whether it's work or personal stuff. It points out how hard it can be for men who don't fit this mold and how that pressure affects their emotions. By talking about these issues, this book shows why we need to rethink what it means to be a man and make a world where everyone can be themselves without feeling like they have to be perfect.

(The Forest Brims Over berbicara tentang bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan, khususnya di dunia penerbitan. Buku ini membawa kita ke tempat di mana perempuan berjuang keras untuk diperlakukan lebih baik. Buku ini menunjukkan bagaimana perempuan menghadapi perlakuan yang tidak adil dan tidak cukup dihormati di dunia yang sebagian besar dijalankan oleh laki-laki. Penulis menunjukkan dengan jelas perjuangan sehari-hari yang dihadapi perempuan, menunjukkan bagaimana hal kecil sekalipun dapat membuat perbedaan besar.

Salah satu bagian penting dari buku ini adalah bagaimana perempuan sering kali dieksploitasi dan dipandang sebagai objek, tidak hanya dalam seni tetapi juga dalam kehidupan. Buku ini berbicara tentang apakah boleh menggunakan kehidupan dan perjuangan seseorang untuk karya seni tanpa izin. Hal ini membuat kita berpikir tentang di mana batas antara menjadi kreatif dan menghormati privasi seseorang.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa banyak cerita yang kita dengar atau baca didasarkan pada kehidupan nyata di masyarakat, terutama kehidupan perempuan, yang seringkali dibayangi oleh cerita laki-laki. Hal ini membuat kita berpikir tentang bagaimana seharusnya penulis memikirkan orang-orang yang mereka tulis dan bagaimana hal itu mempengaruhi mereka.

Namun, ini bukan hanya tentang wanita. Buku ini juga berbicara tentang maskulinitas toksik di mana laki-laki merasa tertekan untuk selalu sukses dan tangguh. Hal ini menunjukkan bagaimana laki-laki diharapkan untuk menjadi kompetitif dan melakukan yang terbaik dalam segala hal, baik itu pekerjaan atau hal-hal pribadi. Ini menunjukkan betapa sulitnya bagi laki-laki yang tidak sesuai dengan pola ini dan bagaimana tekanan tersebut memengaruhi emosi mereka. Dengan membahas isu-isu ini, buku ini menunjukkan mengapa kita perlu memikirkan kembali apa artinya menjadi seorang laki-laki dan menciptakan dunia di mana setiap orang bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa merasa harus menjadi sempurna.)

"Have you ever wondered why it's so natural for a man to drop the titles and call a woman by her name, but we can't do the same to them?"


■This book looks at things like gender dynamics, exploitation, identity, and creative fields. It gets us asking if the way things are is really how they should be.

■One interesting thing about this book is how it tells the story from different points of view. We get to see things through the eyes of Kazuya and Rui, which helps us understand what they're going through better. It's like putting on different glasses and seeing the world in a whole new way.

■This book talks about how things are for women in jobs and how we see men and women differently. It's not afraid to shine a light on the problems like discrimination, inequality, and gender bias.

■The book calls out how women are often stuck in boring roles in stories, just there to make the men look good. It gets us talking about why we see women this way and how we can change it.

■When Rui turns into a forest in the story, it's like she's taking charge of her own life. It's a big symbol of her saying, "I'm not just here for someone else. I'm my own person." She's breaking free from what others expect of her and showing that she's in control of her own destiny.

■The book also makes us think about how we see men and women and what we think they should be like. It gets us asking if the way things are is really fair and if we should change it. By getting us to question these ideas, it helps us move toward a world where everyone's treated the same, no matter who they are.

(■Buku ini membahas hal-hal seperti dinamika gender, eksploitasi, identitas, dan bidang kreatif. Hal ini membuat kita bertanya-tanya apakah yang terjadi memang sebagaimana mestinya.

■Satu hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana ia menceritakan kisah dari berbagai sudut pandang. Kita bisa melihat segala sesuatunya dari sudut pandang Kazuya dan Rui, yang membantu kita memahami apa yang mereka alami dengan lebih baik. Ini seperti memakai kacamata berbeda dan melihat dunia dengan cara yang benar-benar baru.

■Buku ini berbicara tentang bagaimana keadaan perempuan dalam pekerjaan dan bagaimana kita memandang laki-laki dan perempuan secara berbeda. Penulis tidak takut untuk menyoroti masalah-masalah seperti diskriminasi, ketidaksetaraan, dan bias gender.

■Buku ini menceritakan bagaimana perempuan seringkali terjebak dalam peran membosankan dalam cerita, hanya untuk membuat laki-laki terlihat menarik. Hal ini membuat kita membahas mengapa kita memandang perempuan seperti ini dan bagaimana kita dapat mengubahnya.

■Saat Rui berubah menjadi hutan dalam cerita, dia seperti mengambil alih hidupnya sendiri. Ini adalah simbol besar dari perkataannya, "Aku di sini bukan hanya untuk orang lain. Aku adalah diri saya sendiri." Dia melepaskan diri dari apa yang orang lain harapkan dari dirinya dan menunjukkan bahwa dia mengendalikan nasibnya sendiri.

■Buku ini juga membuat kita berpikir tentang bagaimana kita memandang pria dan wanita dan menurut kita seperti apa mereka seharusnya. Hal ini membuat kita bertanya-tanya apakah yang ada saat ini benar-benar adil dan apakah kita harus mengubahnya. Dengan membuat kita mempertanyakan ide-ide ini, hal ini membantu kita bergerak menuju dunia di mana setiap orang diperlakukan sama, tidak peduli siapa mereka.)

"What was there to love about someone once you stripped away those ideas of masculinity and femininity?"


The Forest Brims Over dives into important topics such as gender, art, and identity, especially in the literary world and publishing. It's digging into discussions like inequality, exploitation, what it means to be a writer, and the way women are often stuck in boring roles in stories. One thing that makes this book stand out is how it tackles these heavy topics head-on. It doesn't just scratch the surface, it goes deep into issues like why women aren't treated the same as men and why it's so hard for them to break out of those roles. It's like shining a light on things that need to change in the real world.

(The Forest Brims Over menyelami topik-topik penting seperti gender, seni, dan identitas, terutama di dunia sastra dan penerbitan. Buku ini menggali diskusi seperti ketidaksetaraan, eksploitasi, apa artinya menjadi penulis, dan bagaimana perempuan sering terjebak dalam peran membosankan dalam cerita. Satu hal yang membuat buku ini menonjol adalah caranya membahas topik-topik berat ini secara langsung. Buku ini tidak hanya menyentuh permukaan saja, tapi juga masuk ke permasalahan seperti mengapa perempuan tidak diperlakukan sama seperti laki-laki dan mengapa begitu sulit bagi mereka untuk keluar dari peran tersebut. Ini seperti menyoroti hal-hal yang perlu diubah di dunia nyata.)


don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.