Mewujudkan Sistem Pendidikan Impian untuk Perubahan Positif bagi Pendidikan di Indonesia

 


Saya teringat satu hal yang saya pikirkan ketika saya baru lulus dari sekolah dasar dan masuk sekolah menengah pertama. Satu hal yang saya tanyakan pada diri-sendiri bahwa apakah saya akan menemukan hal-hal “selanjutnya” yang pernah diajarkan di sekolah dasar di jenjang yang baru. Saya memiliki satu guru favorit selama sekolah dasar, sebagai seorang murid sekolah dasar saya selalu melihat sosok beliau sebagai seseorang yang cerdas yang mengetahui segala hal. Beliau bahkan mengetahui apa yang kami pikirkan sebagai murid SD, sehingga suasana belajar selama kurang lebih 3 tahun bersama beliau sangat menyenangkan. Hal terfavorit saya adalah ketika beliau membuat kami semua tertawa terbahak-bahak karena jokes mengenai mata pelajaran yang diajarkannya. Melalui bercandaan tersebut saya masih ingat sebagian materi yang diajarkannya hingga sekarang. Saat kelas 4, beliau mengajar Sejarah dan Ilmu Sosial. Waktu saya kelas 5, beliau mengajar IPA. Waktu saya kelas 6, beliau mengajar Sejarah dan IPA. Banyak kisah yang diceritakan oleh beliau yang menginspirasi saya untuk belajar dengan giat. Ada sesuatu dari guru favorit saya ini yang membuat kami semua diam mendengarkan saat beliau berbicara dan kami selalu termotivasi oleh semangatnya.

Begitu banyak hal yang ingin dibagikannya kepada kami, namun karena satu jam pelajaran hanya 45 menit, seringkali beliau menyambungnya di kesempatan berikutnya. Lebih banyak lagi beliau mengatakan bahwa guru-guru kami di SMP kelak akan mengajarkan hal-hal yang lebih banyak dari yang beliau ajarkan. Sebagai seorang murid SD yang mengkhayal sesuka hati saya, mengira bahwa seluruh guru yang ada di dunia berkumpul dalam satu ruangan besar untuk membicarakan hal-hal yang harus diajarkan kepada para murid sesuai jenjangnya. Saya kemudian mengira bahwa pastinya guru SD saya ini sudah memberi tahu seluruh guru-guru SMP untuk melanjutkan apa yang telah beliau ajarkan kepada kami. Memang anak SD selalu mengkhayal yang tidak-tidak, haha.

Diam-diam saya memiliki impian terpendam mengenai bagaimana sistem pendidikan ideal menurut saya. Jika saya menjadi sosok pemimpin, saya ingin mewujudkan impian tersebut.

 

Perubahan Kurikulum

Hal ini yang membuat saya terus memiliki ekspektasi tersebut. Bukan berarti saya mengatakan bahwa guru-guru di SMP, SMA dan lainnya tidak sesuai ekspektasi ya. Satu hal yang saya sadari selama saya bersekolah adalah banyak sekali perubahan jenis kurikulum yang digunakan, sehingga saya merasa bahwa banyak hal yang ingin saya ketahui lebih lanjut yang tidak saya temukan di jenjang berikutnya. Seperti saat saya bertanya mengenai materi A yang merupakan lanjutan dari materi B yang akan diajarkan di jenjang berikutnya. Kelanjutan dari materi B ini terkadang tidak saya temukan di jenjang berikutnya karena kurikulum yang digunakan sudah berbeda.

Ada sisi positif dan negatif saat kita mencoba berbagai macam jenis kurikulum untuk pendidikan di suatu negara. Sisi positifnya, kita bisa mengetahui mana yang paling enak diterapkan dan mana yang harusnya dikurangi sehingga perbaikan bisa terus berjalan. Sisi negatifnya adalah kebingungan. Saat awal K13 diterapkan di kota saya, bahkan guru-guru yang mengajar masih kebingungan ketika ditanya oleh orang tua  atau wali murid mengenai apa sih sebenarnya kurikulum 2013 dan kenapa bisa berbeda. Mungkin juga hal ini karena kurangnya sosialisasi mengenai kurikulum yang akan diterapkan.

Bagi saya yang sudah merasakan beberapa jenis kurikulum, bahkan selama SD setidaknya terjadi 3 kali perubahan (sehingga buku paket yang saya gunakan berasal dari 3 jenis kurikulum yang berbeda) kurikulum, rasanya agak membingungkan. Materi yang seharusnya diajarkan di kurikulum A belum selesai diajarkan karena kurikulum sudah menggunakan B, sedangkan sisa materi yang harus diajarkan dari setengah awal kurikulum B harus dikebut juga.

Perubahan itu penting namun hal ini bisa disesuaikan dengan kenyataan di lapangan, seberapa banyak progress yang sudah berjalan, seberapa banyak penyesuaian yang harus dilakukan, sehingga perubahan yang terjadi tidak menjadi sesuatu yang shocking dan membingungkan. Selain itu feedback secara berkala mengenai bagaimana sebuah kurikulum berjalan di lapangan sangat diperlukan, sehingga apapun yang diperlukan bisa ditambahkan dan yang tidak dibutuhkan bisa dihilangkan. Sosialisasi bagaimana sebuah kurikulum baru kepada baik murid, tenaga pendidik maupun orang tua juga diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jika orang tua seorang murid dulunya terbiasa berada dalam lingkungan pendidikan dengan kurikulum X, yang mana kurikulum tersebut saat ini sudah tidak digunakan, biasanya akan sedikit kesulitan dengan kurikulum yang berbeda yang kini diterapkan jika tidak ada kegiatan sosialisasi mengenai apa saja yang diharapkan dari kurikulum baru ini dan bagaimana kurikulum ini akan berjalan nantinya.

 

Evaluasi “Budaya” Pendidikan di Indonesia

Apa yang sudah selalu dilakukan generasi sebelumnya belum tentu bisa terus dilakukan selamanya di masa mendatang, jika berbicara mengenai budaya pendidikan di Indonesia. Kebiasaan yang sudah selalu dilakukan mungkin harus digantikan dengan sesuatu yang berbeda dan relevan dengan apa yang dibutuhkan generasi saat ini. Beberapa kebiasaan yang sudah memberikan dampak positif bagi beberapa angkatan dalam satu sekolah pun masih perlu dilihat lebih mendalam, apakah hal-hal yang sama perlu kembali dilakukan, atau kita membutuhkan beberapa hal baru yang harus dilakukan. Seperti contoh mudahnya kegiatan masa orientasi siswa yang selama ini sudah berjalan dengan pola yang hampir sama meski dengan “item” yang berbeda. Kegiatan masa orientasi siswa mungkin sudah melenceng jauh dari tujuan awal dari program ini yaitu untuk pengenalan siswa baru terhadap lingkungan sekolah. Jika selama ini beberapa kegiatan yang menimbulkan banyak sampah menumpuk seperti penggunaan plastik, bisa dihilangkan atau dikurangi, digantikan dengan kegiatan lain seperti bagaimana pengelolaan sampah berjalan di sebuah sekolah dan bagaimana murid-murid bisa berperan aktif dalam pengelolaan sampah. Selain itu kegiatan kreatif yang membuat para murid baru memunculkan ide-ide kreatif dalam rangka mengembangkan diri maupun berkontribusi dalam kegiatan sekolah juga sangat diperlukan. Sehingga kegiatan masa orientasi sekolah tidak lagi menjadi kegiatan yang menakutkan, menyulitkan maupun memberikan dampak negatif bagi lingkungan.

Hal yang harus selalu kita sadari dan ingat adalah bahwa segala sesuatu yang sudah lama berjalan perlu evaluasi dan perubahan – baik perubahan kecil maupun total.

 

Pemanfaatan Media Sosial

Sejak pandemi, media sosial dan aplikasi online meeting menjadi tujuan para tenaga pendidik untuk melangsungkan kegiatan pembelajaran. Tentu kita semua sudah mengetahui sisi positif dan negatif dalam melangsungkan pembelajaran daring ini. Namun menurut saya pemanfaatan media sosial dan media elektronik terutama televisi, masih belum maksimal selama ini. Karena memang tidak semua tenaga pendidik maupun murid bisa langsung memahami cara penggunakan sebuah aplikasi. sehingga dalam hal ini pun diperlukan pemahaman dasar mengenai teknologi informasi dan penerapannya di dunia pendidikan yang nantinya mampu berperan sebagai basic yang dimiliki baik setiap tenaga pendidik maupun murid yang dapat menyesuaikan perkembangan teknologi – tidak peduli berapa banyak jenis aplikasi baru dengan berbagai fitur yang disediakan.

 

Kolaborasi dengan Para Sosok “Idola”

Jika selama ini generasi muda yang menggunakan media sosial lebih tertarik pada konten yang dilabeli sebagai konten kekinian dan banyak dibicarakan oleh teman-teman sebayanya – terutama karena konten tersebut diunggah oleh content creator dengan jutaan pengikut, maka melihat hal ini para content creator bisa menjadi salah satu sosok yang memberikan pendidikan (baik langsung maupun tidak langsung) kepada orang-orang yang menikmati konten yang dibuatnya. Kerja sama yang baik antara kementerian pendidikan dengan orang-orang yang sudah menjadi sosok “idola” ini sangat dibutuhkan, dengan cara yang asyik dan tidak kaku. Dalam hal ini peran generasi muda dari kalangan conten creator sangat dibutuhkan untuk mengarahkan kebiasaan anak-anak muda saat ini yang lebih memilih menikmati beragam informasi dan konten dari sosok yang mereka anggap sebagai “idola”.

 

Memaksimalkan Tayangan Televisi

Selain media sosial, media elektronik terutama televisi juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran, seperti beberapa program televisi yang ditayangkan khusus untuk pendidikan selama pandemi berlangsung. Apalagi selama pandemi berlangsung, persentase kepermisaan penduduk Indonesia yang dipublikasikan oleh Nielsen Television Audience Measurement (TAM) mengalami peningkatan dari rata-rata 12% menjadi 13,8% dimana kenaikan 1% setara dengan 1 juta orang selama bulan Maret 2020. Dengan adanya peningkatan seperti ini, merupakan kesempatan untuk menayangkan tayangan televisi yang mendidik dan memberikan dampak positif bagi penontonnya terutama generasi muda.

Saya pribadi tidak mengetahui bagaimana prosedur dan peraturan mengenai penyiaran, persentase program televisi yang bisa ditayangkan dan lain sebagainya, sehingga saya berharap bisa lebih banyak membuat lebih banyak tayangan televisi untuk pendidikan – baik ilmu pengetahuan umum dan moral, dengan tayangan yang menarik dan memenuhi selera anak muda saat ini sehingga apapun yang disampaikan melalui tayangan tersebut mampu ditangkap sebagai sebuah inspirasi atau motivasi untuk melakukan perubahan ke arah positif.

 

Perubahan Positif Pasti Terjadi

Meski saat ini saya tidak mengetahui langkah praktis apa saja yang harus saya lakukan untuk melakukan perubahan positif di bidang pendidikan Indonesia, namun saya sudah melihat sendiri tidak sedikit orang-orang yang terus berjuang untuk memajukan pendidikan di Indonesia meski mereka bukan orang terkenal yang memiliki jutaan subscriber. Orang-orang seperti ini harus dirangkul untuk terus berkarya dan melakukan lebih banyak hal yang ingin mereka lakukan bagi pendidikan. Peran pemerintah dan generasi muda terutama sosok “idola” anak muda dipadukan dengan orang-orang kreatif di berbagai daerah bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi saya yakin bahwa selama masih ada keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik, kita tidak akan selamanya berada di titik yang sama. Mungkin butuh waktu dan proses yang panjang untuk mewujudkan sistem pendidikan ideal yang saya inginkan (yang saya khayalkan selama kecil), namun bukan berarti itu tidak mungkin terjadi.

Manusia memang cenderung untuk melakukan hal-hal yang sama yang sudah sering dia lakukan selama bertahun-tahun, sehingga perubahan positif dianggap sebagai sebuah ancaman. Namun saat kita menyadari hal seperti ini ada dalam diri kita dan semua orang lainnya, kita bisa selalu mengingatkan diri sendiri bahwa perubahan ke arah positif yang di awal terlihat berat dan tidak mungkin dilakukan itu perlu berlangsung melalui kita.

Jika saya menjadi seorang pemimpin, saya ingin menjadi sosok yang mampu memberikan semangat kepada semua orang di berbagai situasi. Energi positif akan menular dan akan menarik lebih banyak energi positif lainnya. Sosok yang mampu memberikan semangat perubahan ke arah positif bagi semua sektor terutama sektor pendidikan di Indonesia.


Foto : Vasily Koloda from Unsplash

0 Comments

Please comment using Google Account or URL blog, so that I could visit your blog next time